Artikel & Renungan WKICU Admin Artikel & Renungan WKICU Admin

"How to Forgive the Unforgivable?"

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?

By Jennie Xue, MTh
Jennie Xue is a bilingual author based in NorCal.
(Original text, in English)

Being forgiving is one of the most important traits of being a Christian. The word "forgive" itself appears 127 times throughout the Bible.

The concept is simple. We must forgive whoever did us wrong and for whatever reason. Whenever. No exception. Easy, right?

C.S. Lewis once said, "Forgiveness is a beautiful idea --until you have something to forgive."

Christ taught us to forgive seventy times seven times; whenever someone slaps us, we should give our other cheek. In other words, we must have a big heart to forgive others.

Luke 17:3-4 states, "So watch yourselves. If your brother or sister sins against you, rebuke them, and if they repent, forgive them. Even if they sin against you seven times in a day and seven times come back to you saying 'I repent,' you must forgive them."

What does "forgiving" mean?

Forgiveness is an act of pardoning, from which love would triumph over anger and vengeance. The Greek word "forgiveness" literally means "to let go."

As an act, forgiveness only requires us to act, not to wait for a feeling or a good mood to emerge before we forgive. Forgiveness isn't a feeling.

What does "forgiving" not mean?

Forgiving doesn't mean agreeing with the sin being pardoned. It's also not about forgetting. You can still remember the wrongdoing to learn from the past but still forgive the person.

Forgiving isn't reconciliation, either. Reconciliation requires repentance, while forgiveness doesn't. Jesus forgave those who wronged Him despite the fact they haven't repented and might never. 

Who should we forgive? Should we only forgive others? How about forgiving ourselves?

Frequently, we can easily forgive others but can't even fathom to forgive ourselves. After all, we're our own worst critic. However, God asks us to trust Him that He knows everything, and if He can love us, why don't we love ourselves enough to forgive (ourselves)?

1 John 3:20 states, "If our hearts  condemn us, we know that God is greater than our hearts, and He knows everything."

Is there a limit to being forgiving? Only seventy times seven?

There is no limit to being forgiving, as God has no limit in forgiving us, in both the quantity and the quality of our sins. As we're created in God's image, we can forgive as much and as deeply as God has always forgiven us.

What about the "unforgivable" sins? Should we forgive them?

The term "unforgivable" is relative and subjective. One person's "unforgivable" wrongdoing might not be that impactful in others and vice versa.

 

In the case of suicide, which has been considered "a grave or mortal sin," we shouldn't be quick to judge that people who commit them are likely sent to hell.

According to the Catechism of the Catholic Church (CCC 2282-2283):

"Grave psychological disturbances, anguish, or grave fear of hardship, suffering, or torture can diminish the responsibility of the one committing suicide... We should not despair of the eternal salvation of persons who have taken their own lives. By ways known to Him alone, God can provide the opportunity for salutary repentance. The Church prays for persons who have taken their own lives."

While the act itself is considered gravely wrong, the Church acknowledges that factors like mental illness or severe emotional stress might lessen a person's moral culpability. Only God truly knows the state of a person's soul and their capacity for moral reasoning at the time of their death.

To conclude this discussion, let's answer this final question.

Why does God ask us to forgive?

1. To Reflect God's Mercy: The Bible often depicts God as merciful and forgiving. When we forgive others, we reflect God's nature and the mercy He shows us. "Be kind and compassionate to one another, forgiving each other, just as in Christ God forgave you." (Ephesians 4:32)

2. For Healing: Holding onto anger, resentment, or hurt can harm our spiritual, emotional, and physical health. Forgiveness allows us to let go of these negative emotions and promotes healing and peace.

3. To Maintain Relationships: Forgiveness is crucial for maintaining and restoring relationships. Jesus emphasized the importance of reconciliation with others (Matthew 5:23-24).

4. As a Prerequisite for Receiving Forgiveness: In the Lord's Prayer, Jesus teaches us to ask God to forgive our debts, as we also have forgiven our debtors (Matthew 6:12). Jesus further explains, "For if you forgive other people when they sin against you, your heavenly Father will also forgive you. But if you do not forgive others their sins, your Father will not forgive your sins." (Matthew 6:14-15).

5. To Promote Love: Forgiveness is an expression of love, the greatest commandment in Christianity. It helps to maintain unity and harmony within the Christian community and beyond.

6. To Break the Cycle of Retribution: Unforgiveness can lead to a cycle of revenge and retaliation. Forgiveness helps break this cycle and promotes peace and understanding.

May we continue to forgive others and ourselves as Christ has always and will continue to forgive all of us unconditionally. Remember to repent after asking for forgiveness to turn something negative into positivity.


Bagaimana Memaafkan Yang Tidak Dapat Dimaafkan

Oleh Jennie Xue, MTh
Jennie Xue adalah penulis bilingual yang tinggal di NorCal.
(Terjemahan dalam Bahasa Indonesia)

Menjadi seorang pemaaf adalah salah satu sifat paling penting dari menjadi seorang Kristen. Kata “memaafkan’ itu sendiri muncul 127 kali di seluruh Alkitab.
Prinsipnya sederhana saja. Kita harus memaafkan siapa pun yang melakukan kesalahan pada kita dan apa pun alasannya. Kapan pun. Tanpa pengecualian. Mudah, bukan?

C.S. Lewis pernah berkata, “Memaafkan adalah ide yang indah -- sampai Anda memiliki sesuatu untuk dimaafkan.”

Kristus mengajarkan kita untuk mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali; setiap kali seseorang menampar kita, kita harus memberi pipi kita yang lain juga. Dengan kata lain, kita harus mempunyai hati yang besar untuk memaafkan orang lain.

Lukas 17:3-4 menyatakan, “Maka jagalah dirimu. Jika saudaramu berbuat dosa terhadap kamu, tegorlah mereka, dan jika mereka bertobat, ampunilah mereka. Sekalipun mereka berbuat dosa terhadapmu tujuh kali dalam sehari tujuh kali kembali kepadamu sambil berkata 'Aku bertobat,' kamu harus memaafkan mereka.”

Apa artinya “Memaafkan” ?
Pengampunan adalah tindakan memaafkan, yang darinya cinta akan menang atas kemarahan dan balas dendam. Kata dari bahasa Yunani “pengampunan” secara harafiah berarti “melepaskan”.
Sebagai sebuah tindakan, memaafkan hanya menuntut kita untuk bertindak, bukan menunggu munculnya perasaan atau suasana hati yang baik sebelum kita memaafkan. Memaafkan bukanlah sebuah perasaan.

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?

Apa yang bukan berarti “memaafkan” ?
Memaafkan bukan berarti setuju dengan dosan yang kita ampuni. Juga bukan berarti melupakannya. Anda masih bisa mengingat kesalahannya untuk belajar dari masa lalu namun tetap memaafkan orang tersebut.
Memaafkan juga bukan rekonsiliasi. Rekonsiliasi membutuhkan pertobatan, sedangkan pengampunan tidak. Yesus mengampuni mereka yang berbuat salah kepada-Nya meskipun faktanya mereka belum bertobat dan mungkin tidak akan pernah bertobat.

Siapa yang harus kita maafkan? Haruskah kita memaafkan orang lain saja? Bagaimana kalau memaafkan diri kita sendiri?

Seringkali kita mudah memaafkan orang lain, namun kita tidak bisa memaafkan diri sendiri. Bagaimanapun juga, istilahnya kita memang kritikus terburuk kita sendiri. Namun, Tuhan meminta kita untuk percaya kepada-Nya bahwa Dia mengetahui segalanya, dan bila Dia bisa mengasihi kita, mengapa kita tidak mengasihi diri kita sendiri agar bisa memaafkan (diri kita sendiri)?.

1 Yohanes 3:20 menyatakan, ‘Jika hati kita menyalahkan kita, kita tahu, bahwa Allah lebih besar dari hati kita, dan Dia mengetahui segalanya.”

Apakah ada batasan untuk memaafkan? Apakah hanya tujuh puluh kali tujuh?
Tidak ada batasan untuk memaafkan, sebagaimana Tuhan tidak memiliki batasan dalam mengampuni kita, baik dalam jumlah maupun besarnya dosa kita. Karena kita diciptakan menurut gambar Allah, kita bisa mengampuni sebanyak dan sedalam Allah yang selalu mengampuni kita.

Bagaimana dengan “dosa-dosa yang dapat dimaafkan? Apakah perlu maafkan juga ?
Istilah ‘tidak dapat dimaafkan” bersifat relatif dan subyektif. Kelakuan seseorang yang “tak termaafkan” mungkin melakukan kesalahan tidak terlalu berdampak pada orang lain dan sebaliknya.

Dalam kasus bunuh diri, yang dianggap sebagai “dosa berat atau dosa maut” kita tidak boleh terburu-buru menilai bahwa orang yang melakukannya kemungkinan besar akan dikirim ke neraka.

Menurut Katekismus Gereja Katolik (KGK 2282-2283):
”Gangguan psikologis yang parah, kesedihan, atau ketakutan yang besar akan kesulitan, penderitaan, atau penyiksaan dapat menurunkan kadar tanggung jawab orang yang melakukan bunuh diri... Kita tidak boleh berputus asa akan keselamatan kekal orang-orang yang telah bunuh diri. Hanya melalui cara yang diketahui-Nya saja, Tuhan dapat memberikan kesempatan untuk pertobatan yang bermanfaat. Gereja berdoa bagi orang-orang yang telah mengambil hidup mereka sendiri.”

Meskipun tindakan itu sendiri dianggap salah besar, Gereja mengakui bahwa ada faktor-faktor seperti mental penyakit atau tekanan emosional yang parah dapat mengurangi kesalahan moral seseorang. Hanya Tuhan yang benar-benar tahu keadaan jiwa seseorang dan kapasitas penalaran moral pada saat kematiannya.


Untuk mengakhiri diskusi ini, mari kita jawab pertanyaan terakhir ini.

Mengapa Tuhan meminta kita untuk mengampuni?

1. Mencerminkan Kemurahan Tuhan: Alkitab sering kali menggambarkan Tuhan sebagai sosok yang penuh belas kasihan dan pemaaf. ketika kita memaafkan orang lain, kita mencerminkan sifat Tuhan dan belas kasihan yang Dia tunjukkan kepada kita. “Bersikaplah baik dan penuh kasih sayang kepada satu sama lain, saling mengampuni, sama seperti Allah telah mengampuni kamu dalam Kristus.” (Efesus 4:32)

2. Untuk Penyembuhan : Menahan amarah, dendam, atau sakit hati dapat merugikan spiritual, emosional, dan kesehatan fisik. Pengampunan memungkinkan kita melepaskan emosi negatif ini dan mendorong penyembuhan dan kedamaian.

3. Untuk Menjaga Hubungan: Pengampunan sangat penting untuk menjaga dan memulihkan hubungan. Yesus menekankan pentingnya rekonsiliasi dengan orang lain (Matius 5:23-24).

4. Sebagai Prasyarat Menerima Pengampunan: Dalam Doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan kita untuk meminta Tuhan mengampuni hutang kita, sama seperti kita juga telah mengampuni orang yang berhutang (Matius 6:12). Yesus lebih lanjut menjelaskan, “Sebab jika kamu mengampuni orang lain ketika mereka berdosa terhadap kamu, maka Bapamu yang di sorga juga akan mengampuni kamu. Tetapi jika kamu tidak mengampuni dosa orang lain, maka Bapamu tidak akan mengampuni dosamu.” (Matius 6:14-15).

5. Untuk Meningkatkan Kasih: Pengampunan adalah ekspresi kasih, perintah terbesar dalam diri kita Kekristenan. Ini membantu menjaga kesatuan dan keharmonisan dalam komunitas Kristen dan sekitarnya.

6. Untuk Memutuskan Siklus Pembalasan: Sikap tidak memaafkan dapat mengarah pada siklus balas dendam dan pembalasan. Pengampunan membantu memutus siklus ini dan mendorong perdamaian dan pengertian.

Semoga kita terus mengampuni orang lain dan diri kita sendiri sebagaimana Kristus selalu dan akan terus mengampuni semua orang tanpa syarat. Ingatlah untuk bertobat setelah meminta maaf untuk membalikkan sesuatu yang negatif menjadi positif.

Read More
Kesaksian WKICU Admin Kesaksian WKICU Admin

“I give, I take Away, & I replace”

Hebrews 13:5
Let your life be free from love of money but be content with what you have, for he has said, “I will never forsake you nor abandon you”.

By Anonymous – this testimony is written to obey what Jesus asks in Mark 5:19

Original Text:

“Go home to your family and announce to them all that the Lord in his pity has done for you”

“Happy belated birthday Laksita (not a real name)”

“Thank you Citra (not my real name). How have you been?

Then we chatted about many things. I don’t remember when the last time I talked to her, it’s more than a year for sure. Then she asked me,“ How is your work?”

“I love my job, it’s given by God. I was called for this position 3 times. First when a recruiter contacted me about this opening position. I passed the interview process, but the recruiter told me that the hiring manager is not ready to hire a full time employee. This department was just built; the hiring manager realized she needed a contractor/part time employee. I was working full-time at that time. About 6 months later, the same recruiter called me again, told me that the hiring manager is now ready to hire a full time employee. The weekend that I was supposed to accept the job offer, an incident happened to my mother. I dare not to take a risk of working for a new company. So I told the hiring manager what has happened. The next 6 months, the same recruiter called me that the position was still open. Then I realized, I was called 3 times for this same position, for the same hiring manager, and for the same company. A soft whisper told me it is not a coincidence, it must be from God. By this time, my mom has fully recovered. Long story short, I accepted and signed the job offer”

That was my conversation with my good longtime friend, Laksita on Monday July 31, 2023. I called her to wish her a blessed belated birthday. We used to work in the same company about 25 years ago. Because of our faith, our friendship grew beyond work related stuffs.

Laksita also shared God’s miracle at her work place. Recently the department she works at had to cut 11 people and only 1 person will stay. Laksita was that one person. She also shared God’s many blessings to her family. The conversation was full of sharing about God’s graces. When discussing about family stuffs, Laksita suggested me to pray the novena to St Anne. Good timing, I said to myself, I will start the novena tomorrow, Aug 1, so it’s easy to remember its nine days.

Tuesday morning, Aug 1, I had a one-on-one meeting with my manager. I felt like a bomb dropped on my head; I got laid off! I was so quiet in that meeting; I don’t know what to say; the Human Resource person who joined the meeting later explained about the termination paper work and its details. I didn’t remember most of it. My mind was thinking about 1000 different things. As soon as the meeting ended, I contacted my ex-coworkers in LinkedIn, asking them if they have an opening for my position in their company.

I shared the news to my friends in one message group whose members are Hasti, Amir and Melati (not real names). Hasti and I have similar characters. In one of her messages, she told me that Amir often says this to her:

“You worry about too many things. If you trust God, you shouldn’t worry at all”.

That statement stays with me and I often repeat it in my heart.

At 3 pm I prayed the Divine Mercy chaplet. After praying, I shared the news to my ‘little God sister’, also to my childhood neighbor who was still looking for a job.

Then I decided to go to the daily mass at 5pm that day. I felt like a walking zombie. After the mass, the priest continued to lead the faithful with the litany of St. Anthony (of Padua). I stayed and prayed until the litany is over, then I stayed a bit longer for a short Adoration.

I came back home, then things started to settle in my head. In the silence, the yesterday conversation with Laksita came back and suddenly I heard a soft voice:

“I gave you the job, I took it away, I will restore it”

Job 1:21 Naked I came forth from my mother’s womb, and naked shall I go back there. The LORD gave and the LORD has taken away; blessed be the name of the LORD!

Job 42:10 The LORD also restored the prosperity of Job, after he had prayed for his friends; the LORD even gave to Job twice as much as he had before.

I also realized, the litany prayed at the church was the litany to St Anthony, a saint who finds what was lost. I just lost my job! Is it a coincidence? Though I believe it is not, yet many questions are lingering in my head. I struggle with my fears! Where is my Trust to Jesus? Where is my Faith? What a temptation!

Hasti said to me: “We often think that we have faith until we are in the situation where we don’t want to be.” She is right!

Isaiah 41:10 Do not fear: I am with you; do not be anxious: I am your God. I will strengthen you, I will help you, I will uphold you with my victorious right hand.

It was about 10.50pm I was ready to go to bed. Still, searching for a hope, so I glanced at my phone quickly. I saw a new LinkedIn message from my ex-manager, said that a person we know was looking for a person with my skill. I logged in to my computer, followed up the message. In less than 10 minutes the hiring person sent me a message, we communicated, and the person told me to expect their HR team to contact me.

The Lord has started His great plan. My part is to participate in His grace. Realizing my weaknesses, doubt and fear, I need to fight them with prayers and the word of God (to increase my Faith and strengthen my Trust in Jesus through His promises).

From this day on, all I remember is a daily battle to keep trusting the Lord. He is so merciful. With constant prayers and daily reading, He is directing me what to do, each day. In short:

Day 2nd (after the lay-off announcement); my normal inclination is to contact many faithful friends for their prayers. I started messaging the news and Laksita was the first one; She was really shocked and trying her best to help me and connect me to her professional network. I was about to text the next person when suddenly I heard the soft voice: Do you trust Me? Trust in Me alone! I stop texting my friend!

Psalm 62:6-7 My soul, be at rest in God alone, from whom comes my hope. God alone is my rock and my salvation, my fortress; I shall not fall.

Though I didn’t share my situation with my aunt, who is so devout and close to the Lord, she sent me this message: “You are too anxious with many things, you need to let it go, if you trust God you can’t be worried at the same time.” Is it a coincidence? Knowing her all this time, I found her ‘senses’ were always correct.

Day 3rd Responding to my message, Melati asked me the following: “Citra, pray the novena to St. Joseph”. So I did. I heard the soft voice: “God will not be outdone in generosity” which later I know it’s a known statement by St Ignatius of Loyola.

Proverbs 11:25 Whoever confers benefits will be amply enriched, and whoever refreshes others will be refreshed.

Day 5th ; I went to the First Saturday mass. I met a long-time friend at the church. He called himself ‘a man of prayer.’ I know it was a divine meeting. He asked me about my work life, therefore I shared about my situation. After spending time chatting with him, I was at peace. God’s grace is poured through my friend’s prayers.

Day 6th ; I met a ‘new’ friend at a local coffee shop. Because of the topic of our conversation, I shared my situation with him. Again, God is pouring His grace through this ‘new’ friend’ prayers.

Day 7th ; I woke up singing a song verse “Holy, Holy, Holy is His name” in my head. I don’t know the song lyrics and the title of the song though I know the melody. This song verse kept singing in my head for about a week. After searching it over the net, I know the title and background of the song. It is “Holy is His Name” by John Michael Talbot. It’s based on the Canticle of Mary in Luke 1:46-55.

Day 9th ; The last day of my novena prayer to St Anne. I went for a daily mass at the church whose “St Anne” is the patron saint.

Day 11th ; The last day of my novena prayers to St Joseph. Again I went for a daily mass at the church whose “St Joseph” is the patron saint.

Day 14th ; I had my last interview with the company God had provided. It was a total of seven people who interviewed me.

Day 22 nd ; It’s the Memorial of the Queenship of the Blessed Virgin Mary. At around 7.30pm, I received the formal job offer. Bless the Lord my soul! Bless His Holy Name!

Psalm 103:1-2 Bless the LORD, my soul; all my being, bless his holy name! Bless the LORD, my soul; and do not forget all his gifts…

It was an amazing 22 days spiritual journey. I went thru ups and downs in fighting my weak flesh, constantly. It kept trying to bring me down and to separate me from the Lord. Mother Mary has been accompanying and protecting me. Through trials, comes the joy. The Lord blessed me with other miracles that I can’t write all of them here.

James 1:2-4 Consider it all joy, my brothers, when you encounter various trials, for you know that the testing of your faith produces perseverance. And let perseverance be perfect, so that you may be perfect and complete, lacking in nothing.

I want to thank my beloved mother, Mother Superior in the church I volunteer at, Laksita, Hasti, Melati, Amir, my ‘little God sister’, my childhood neighbor, ‘a man of prayer”, and my ‘new’ friend I met at the coffee shop. Also to all my friends at and outside work, who have been praying for me and my family, whom knowing my situation first hand or second. If you didn’t hear it from me, it is not I don’t want to share the news with you; in fact it is on the contrary. However, this time God is teaching me to trust in Him alone. Be sure that all of your prayers have been strengthening and helping me in this spiritual journey.

Deuteronomy 31:6 Be strong and steadfast; have no fear or dread of them, for it is the LORD, your God, who marches with you; he will never fail you nor forsake you”

Above all, I thank God, my Lord, who has been teaching me to walk in His way. Not by my strength but His. For my long journey ahead, I pray that I will continue to walk in His way till I reach the finish line.

Hebrews 13:5 Let your life be free from love of money but be content with what you have, for he has said, “I will never forsake you nor abandon you”.

A new prayer I learned in this journey which strengthens me:

“Unity Prayer” by Father Jim Blount, an exorcist, who is devoted to a ministry of healing and deliverance.

“My adorable Jesus

May our feet journey together

May our hands gather in unity

May our hearts beat in unison

May our souls be in harmony

May our thoughts be as one

May our ears listen to the silence together

May our glances profoundly penetrate each other

May our lips pray together to gain mercy from the Eternal Father”

Other prayers:

Novena prayers: St Anne, St Joseph, and Forgiveness from St Josemaria Escriva.

Daily prayers: Act of Contrition, Rosary, Divine Mercy, Sacred Heart of Jesus, Mother of Perpetual Help,

St Joseph, St Michael and Guardian Angel.

Translation:

“Aku Memberi, Aku Mengambil Kembali, & Aku Menggantinya”

Oleh Anonymous – kesaksian ini ditulis untuk melakukan apa yang Yesus minta dalam Markus 5:19

Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!

“Selamat ulang tahun Laksita (bukan nama sebenarnya)”
“ Terima kasih Citra (bukan namaku yg sebenarnya ). Bagaimana kabarmu?

Lalu kami berbincang tentang banyak hal. Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya berbincang dengannya, yang pasti sudah lebih dari setahun. Lalu dia bertanya padaku, “Bagaimana dengan pekerjaan kamu?”

“Aku suka pekerjaanku, itu anugerah Tuhan. Aku dipanggil untuk posisi ini sampai 3 kali. Pertama, perekrut menghubungiku tentang lowongan ini. Singkatnya, aku lulus proses wawancara, namun perekrut memberi tahuku bahwa sang manajer belum siap mempekerjakan karyawan penuh waktu. Departemen ini baru saja dibangun; sang manajer berpikir sebaiknya dia memperkerjakan seorang kontraktor/karyawan paruh waktu. Sekitar 6 bulan kemudian, perekrut yang sama meneleponku dan memberi tahu bahwa sang manajer sekarang siap untuk memperkerjakan karyawan penuh waktu. Akhir pekan dimana aku seharusnya menerima tawaran itu, sebuah kejadian menimpa ibuku. Aku tidak berani mengambil risiko bekerja di perusahaan baru saat ibuku membutuhkanku. Aku beri tahu sang manajer apa yang terjadi. 6 bulan berikutnya, perekrut yang sama memberi tahuku bahwa lowongan ini belum terisi. Aku menyadari, ini adalah ke 3 kali nya aku dipanggil untuk posisi yang sama, untuk manajer yang sama, dan untuk perusahaan yang sama. Bisikan lembut memberitahuku bahwa ini bukanlah kebetulan, tapi dari Tuhan adanya. Saat ini, ibuku sudah pulih. Singkat cerita, ku terima dan tandatangani tawaran pekerjaan itu”

Begitulah percakapanku dengan sahabat lamaku, Laksita pada hari Senin 31 July 2023. Aku menelponnya karena sehari sebelumnya adalah hari ulang tahunnya. Kami bekerja di perusahaan yang sama sekitar 25 tahun yang lalu. Kesamaan keyakinan yang sama membuat persahabatan kami tumbuh tidak hanya dalam hal pekerjaan.

Giliran Laksita menceritakan anugerah Tuhan di kantor nya. Belum lama ini, bagian di mana Laksita bekerja harus mem PHK kan 11 orang dan hanya 1 orang dipertahankan. Ternyata Laksita lah yang terpilih. Ia juga berbagi cerita berkat-berkat Tuhan dalam keluarganya.
Percakapan kami penuh dengan membagi cerita tentang rahmat Tuhan. Berbicara tentang urusan keluarga, Laksita menyarankanku untuk berdoa novena kepada St Anne. Waktu yang tepat, kataku dalam hati, aku akan mulai doa novena ini besok, 1 Agustus, agar mudah mengingat sembilan harinya.

Selasa pagi, 1 Agustus, Aku ada ‘meeting’ dengan manajerku. Seperti sebuah bom jatuh di kepalaku, aku di-PHK! Aku hanya terdiam dalam ‘meeting’ itu, tidak tahu harus berkata apa; bagian Sumber Daya Manusia yang bergabung di rapat menjelaskan semua dokumen dan detil PHK. Sebagian besar penjelasannya tidak melekat di kepalaku. Aku pusing dengan 1000 macam hal. Setelah ‘meeting’ berakhir, aku kontak bekas kolegaku di LinkedIn, menanyakan jika ada lowongan di perusahaan mereka bekerja. Aku beri tahu teman-teman ku yang ada di dalam satu grup SMS, Hasti, Amir dan Melati (bukan nama sebenarnya). Aku dan Hasti mempunyai sifat yang mirip. Salah satu pesannya, dia berbagi apa yang Amir sering katakan:

“Kita sering khawatir dalam banyak hal. Jika kita percaya pada Tuhan, harusnya tidak perlu khawatir”.

Kata-kata itu terngiang dalam pikiranku dan aku sering mengulangi nya dalam hatiku.

Pada jam 3 sore aku berdoa Koronka Kerahiman Ilahi. Usai berdoa, aku memberitahu situasiku kepada ‘adik dalam Tuhan’, dan kepada tetangga masa kecilku yang juga masih mencari pekerjaan.

Hari itu aku hadiri misa harian jam 5 sore. Hatiku sangat gundah. Setelah misa, romo melanjutkan dengan doa litani St. Antonius (dari Padua). Aku ikut berdoa sampai selesai, setelah itu aku tetap duduk dalam gereja untuk Adorasi.

Kembali ke rumah, kejadian hari ini mulai dicerna kepalaku. Disaat hening, percakapan dengan Laksita muncul dan tiba-tiba aku mendengar suara lembut:

“Aku memberimu pekerjaan itu. Aku mengambilnya kembali, Aku akan menggantiya”

Ayub 1:21 Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!

Ayub 42:10 Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.

Kemudian aku sadar, di gereja aku berdoa kepada Santo Antonius, santo yang membantu menemukan apa yang hilang. Aku kehilangan pekerjaanku! Apakah ini kebetulan? Walau aku percaya ini bukan kebetulan, namun banyak kecemasan berputar di kepalaku. Aku takut! Di mana kepercayaanku pada Yesus? Dimana kekuatan Imanku? Godaan yang luar biasa!

Kata Hasti: “Tanpa kita sadari kita sering berpikir bahwa kita punya iman yang kuat sampai saat kita ada di situasi yang tidak kita inginkan” Ucapan yang bijak!

Yesaya 41:10 janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

Sekitar jam 10.50 malam, aku bersiap untuk tidur. Masih berharap, aku melirik ponselku dengan cepat. Aku tangkap ada pesan di LinkedIn dari mantan manajerku, katanya seseorang yang kita kenal (di masa lalu) buka lowongan untuk posisiku. Segara aku kembali ke komputerku, mencari tahu hal itu. Dalam waktu kurang dari 10 menit, aku terima pesan dari orang ini, kami berkomunikasi dan mengakhirinya dengan pesan bahwa tim ‘HR’ mereka akan menghubungi Aku.

Tuhan telah mulai rencana besar-Nya. Kewajibanku adalah berpartisipasi dalam kasih karuniaNya. Sadar akan kelemahanku, aku melawannya dengan doa dan firman Tuhan (untuk menguatkan Iman dan kepercayaanku kepada Tuhan Yesus melalui janji-janji-Nya).

Sejak hari ini, setiap hari adalah perjuangan untuk tetap percaya kepadaNya . Tuhan adalah kasih. Dengan banyak berdoa dan mengenal firman Nya, Dia mengarahkanku apa yang harus aku lakukan setiap hari. Pendeknya:

Hari ke-2 (setelah pengumuman PHK); Aku cenderung ingin hubungi teman-teman yang suportif sebanyak mungkin, karena aku perlu dukungan doanya. Aku mulai mengirim berita dan Laksita adalah yang pertama aku hubungi; dia sangat terkejut, berusaha sebisanya membantuku melalui jaringan profesionalnya. Aku siap untuk SMS ke teman berikutnya, tiba-tiba aku dengar suara lembut itu: Apakah kamu percaya padaku? Percayalah pada-Ku saja! Aku tersentak dan berhenti mengirim SMS.

Mazmur 62:6-7 Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.

Aku tidak beritakan situasiku kepada bibiku, seorang yang sangat saleh dan dekat dengan Tuhan, tapi dia mengirimiku pesan ini: “Kamu cemas dengan banyak hal, kamu harus lepaskan jika kamu percaya kepada Tuhan, dan tidak perlu khawatir”. Apakah ini kebetulan? Selama aku mengenalnya, apa yang dia ‘lihat’ adalah benar adanya.

Hari ke-3

Melati membalas beritaku seperti ini: “Citra, doakan novena St Yosef”.

Aku ikuti pesannya. Aku mendengar suara lembut: “Kemurahan hati manusia tidak akan pernah melampaui kemurahan hati Tuhan” (terjemahan bebas) yang ternyata adalah kata-kata dari St Ignatius dari Loyola.

Amsal 11:25 Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.

Hari ke-5; Aku ikut misa Sabtu Pertama. Aku bertemu dengan seorang teman lama di gereja. Dia menyebut dirinya &’pria pendoa’. Aku percaya pertemuan ini diatur oleh Tuhan. Dia bertanya tentang pekerjaanku, aku ceritakan tentang situasiku. Setelah menghabiskan waktu ngobrol dengannya, aku merasakan ada kedamaian. Tuhan melimpahkan kasihNya melalui doa temanku.

Hari ke-6; Aku jumpa dengan teman ‘baru’ di kedai kopi lokal. Karena topik pembicaraan kami yang menyangkut situasiku, aku berbagi berita kepadanya. Sekali lagi, Tuhan yang murah hati melimpahkan kasihNya melalui doa temanku ini.

Hari ke 7; Aku terbangun sambil menyanyikan bait lagu “Holy, Holy, Holy is His Name” di kepalaku. Aku tidak tahu lirik dan judul lagunya. Bait lagu ini tetap bernyanyi di kepalaku selama sekitar seminggu. Dari internet aku mendapat judul dan keterangan tentang lagu ini; “Holy is His Name” ciptaan John Michael Talbot. Lagu ini diciptakan berdasarkan Kidung Maria dalam Lukas 1:46-55.

Hari ke-9; Hari terakhir doa novena kepada St Anne. Aku mengunjungi misa harian di gereja yang santa pelindungnya adalah St Anne.

Hari ke-11; Hari terakhir doa novena kepada St Yosef. Juga aku kunjungi misa harian di gereja yang santo pelindungnya adalah St. Yosef.

Hari ke-14; Wawancara terakhir dengan perusahaan yang Tuhan telah sediakan. Jumlah pewawancara adalah tujuh orang.

Hari ke-22; Adalah hari Peringatan Santa Perawan Maria, Ratu yang Terberkati. Sekitar jam 7.30 malam, aku menerima tawaran pekerjaan. Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah Nama-Nya yang Kudus!

Mazmur 103:1-2 Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!

Betapa 22 hari perjalan spiritual yang luar biasa. Banyak pasang surut dalam melawan kelemahanku, godaan untuk menjatuhkanku, dan godaan untuk memisahkanku dari Tuhan. Bunda Maria selalu menemani dan melindungiku. Setelah cobaan, datanglah kebahagiaan. Tuhan berikan aku berkat dengan rahmat – rahmat lainnya yang tidak dapat aku tulis semuanya di sini.

Yakobus 1:2-4 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

Aku mengucapkan terima kasih kepada ibuku tercinta, Ibu Suster Kepala di gereja dimana aku menjadi relawan, Laksita, Hasti, Melati, Amir, &’adik kecil’, tetangga masa kecil, & ‘pria pendoa’, teman ‘baru’ yang bertemu di kedai kopi. Juga kepada semua sahabatku baik sahabat dari dan diluar kantor yang mendoakan aku dan keluargaku, dari manapun kalian tahu keadaanku. Kepada sahabat yang tidak mendengar hal ini dari aku, bukanlah aku tidak ingin berbagi dengan kalian, justru sebaliknya. Kali ini Tuhan sedang mengajariku untuk bertumpu hanya kepada-Nya. Doa kalian semua telah menguatkan iman dan kepercayaanku.

Ulangan 31:6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.

Di atas semuanya, aku bersyukur kepada Tuhan, Allahku yang telah membimbingku di jalan-Nya. Bukan dengan cara mengandalkan kekuatanku tapi dengan kekuatan-Nya lah!. Perjalanan ini masih panjang dan aku berdoa agar aku kuat berjalan bersama-Nya hingga mencapai garis akhir.

Ibrani 13:5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau”.

Doa baru yang aku pelajari yang menguatkanku:

“Unity Prayer” by Father Jim Blount, an exorcist, who is devoted to a ministry of healing and deliverance.

“My adorable Jesus
May our feet journey together
May our hands gather in unity
May our hearts beat in unison
May our souls be in harmony
May our thoughts be as one
May our ears listen to the silence together
May our glances profoundly penetrate each other
May our lips pray together to gain mercy from the Eternal Father”

Doa-doa lainnya:

Novena prayers: St Anne, St Jospeh, and Forgiveness from St Josemaria Escriva.
Daily prayers: Act of Contrition, Rosary, Divine Mercy, Sacred Heart of Jesus, Mother of Perpetual Help, St. Joseph, St Michael and Guardian Angel.

Read More
Artikel & Renungan WKICU Admin Artikel & Renungan WKICU Admin

“As a Catholic, Should I or Shouldn't I be Rich?”

Mat 6:24
No one can serve two masters. Either you will hate the one and love the other, or you will be devoted to the one and despise the other. You cannot serve both God and money.

By Jennie Xue, MTh, a bilingual author based in Northern California.

Does God want us to be rich? Sometimes we receive conflicting messages, and it confuses us. Then we’re reminded of our beloved Christ. Whenever we remember Him, we calmly say, “Jesus was born poor and died poor, so I must follow His footsteps.”

Soon after, we feel relieved that God will provide whatever it is.
We’re supposed to be grateful for what we have now, just like Jesus did. We smile and nod, agreeing. After all, there is a Bible verse, 1 Timothy 6:10, “For the love of money is the root of all evil.”

Interestingly, whenever we go to the bookstore and watch on TV or Youtube, Joel Olsteen is everywhere. He has published many books about how to live your best life and that (financial) prosperity will follow. According to Olsteen and many other reverends, God’s blessings also come in financial riches, and we must strive for them. Is that so?

Now, let’s look at the Amish and the Mennonites in the eastern part of the United States. They’re the opposite of what Olsteen believes. They live such a modest lifestyle that most don’t have electricity, computers, phones, modern transportation like cars or buses, and modern clothing. They live in traditional modesty that most consider “quite extreme.”

Now, what about us Catholics? Where do we stand in terms of monetary riches? Don’t we all believe in the same God and the same Savior? And in the idea that God came into the world in flesh and blood so that He could save us all from our sins? Matthew 6:24 states, “No one can serve two masters. Either you will have the one and love the other, or you will be devoted to the one and despise the other. You cannot serve both God and money.” The context of this verse was Jesus’ teachings on the Sermon on the Mount. He addressed this issue to the predominantly Jewish audience and discussed other sins, like adultery and murder. Through His teachings in Matthew 6:24, Jesus reminded us that money could profoundly impact our physical and spiritual selves. Also, Matthew 6:19-21 states, “Do not store up for yourselves treasures on earth, where moths and vermin destroy, and where thieves break in and steal.”

At the same token, He also provided for our needs in abundance, as stated in Matthew 14:20, “They all ate and were satisfied, and the disciples picked up twelve basketfuls of broken pieces that were left over.” He would never leave us hungry and unkept. The overarching concept of work and material well-being in Christianity is neutral, which means it’s not holy or evil. We must work based on our calling, talents, interests, passions, or simply because we have responsibilities to fulfill. And work makes us more grateful for the physical and spiritual benefits resulting. God doesn’t merely bless us with material or financial wealth, for “wealth” comes in many forms. Monetary riches are simply one of them, and how much money we have doesn’t indicate how blessed we are.

Essential teachings about monetary riches for Christians:

1. Money isn’t evil. It’s greed that’s evil.

2. Wealth comes in many forms, not only money.

3. Being financially prosperous doesn’t indicate how blessed one is.

4. Both work and money are neutral. We can give positive or negative meanings depending on our intentions.

5. We’re stewards of physical and spiritual things, including money. Use them to empower people to be closer to God with faith and sincerity.

In conclusion, as a Catholic, it’s fine to be financially independent so that you don’t burden anyone, can provide for your family, and can donate to various helpful causes without compromising yourself. May we all be fruitful and blessed in many ways.

===================

“Sebagai seorang Katolik, apakah saya harus kaya atau tidak?”

Oleh Jennie Xue, MTh, penulis dwibahasa yang tinggal di California Utara.

Apakah Tuhan ingin kita hidup kaya? Terkadang kita menerima pesan-pesan yang bertentangan, dan itu amat membingungkan. Kemudian kita diingatkan akan Kristus kita yang terkasih. Setiap kali kita mengingat-Nya, kita dengan tenang berkata, “Yesus lahir dalam keadaan miskin dan mati dalam keadaan miskin, jadi saya harus mengikuti jejak-Nya.”

Namun segera setelah itu, kita merasa lega bahwa Tuhan akan menyediakan apa pun itu. Kita seharusnya bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang, seperti yang Yesus lakukan. Kita tersenyum dan mengangguk, setuju. Lagi pula, ada ayat Alkitab, 1 Timotius 6:10, “Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang.”

Menariknya, setiap kali kita pergi ke toko buku dan menonton di TV atau Youtube, Joel Olsteen sering ada di mana-mana. Dia telah menerbitkan banyak buku tentang bagaimana menjalani hidup terbaik anda dan kemakmuran (finansial) akan mengikuti. Menurut Olsteen dan banyak pendeta lainnya, berkah Tuhan juga datang dalam kekayaan finansial, dan kita harus berjuang untuk itu. Apakah sesungguhnya memang begitu?

Coba kita lihat kehidupan suku Amish dan Mennonit di bagian timur Amerika Serikat. Mereka justru adalah kebalikan dari apa yang diyakini Olsteen. Mereka hidup dengan gaya hidup sederhana yang kebanyakan tidak memiliki listrik, komputer, telepon, transportasi modern seperti mobil atau bus, dan pakaian modern. Mereka hidup dalam kesopanan tradisional yang oleh kebanyakan orang dianggap “sangat ekstrim”.

Sekarang, bagaimana dengan kita umat Katolik? Di manakah posisi kita dalam hal kekayaan moneter? Bukankah kita semua percaya pada Tuhan yang sama dan Juruselamat yang sama? Dan dalam gagasan bahwa Tuhan datang ke dunia dalam daging dan darah sehingga Dia dapat menyelamatkan kita semua dari dosa kita? Matius 6:24 menyatakan, “Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Entah Anda akan memiliki yang satu dan mencintai yang lain, atau Anda akan berbakti pada yang satu dan membenci yang lain. Anda tidak dapat melayani Tuhan dan uang sekaligus.” Konteks ayat ini adalah ajaran Yesus tentang khotbah di bukit. Dia membahas masalah ini kepada para pendengar yang didominasi orang Yahudi dan membahas dosa-dosa lain, seperti perzinahan dan pembunuhan. Melalui ajaran-Nya dalam Matius 6:24, Yesus mengingatkan kita bahwa uang dapat sangat memengaruhi fisik dan spiritual kita. Juga, dalam Matius 6:19-21 dikatakan, “Janganlah menimbun bagimu harta di bumi, di mana ngengat dan rayap merusak, dan di mana pencuri membongkar dan mencurinya.”

Pada saat yang sama, Yesus juga memenuhi kebutuhan kita dengan kelimpahan, seperti yang dinyatakan dalam Matius 14:20, “Mereka semua makan sampai kenyang, dan murid-murid mengumpulkan dua belas keranjang penuh potongan-potongan yang tersisa.” Dia tidak akan pernah meninggalkan kita lapar dan tidak terawat. Konsep menyeluruh tentang pekerjaan dan kesejahteraan materi dalam agama Kristen adalah netral, yang artinya tidak suci atau jahat. Kita harus bekerja berdasarkan panggilan, bakat, minat, hasrat, atau hanya karena kita memiliki tanggung jawab untuk dipenuhi. Dan bekerja membuat kita lebih bersyukur atas manfaat jasmani dan rohani yang dihasilkan. Tuhan tidak hanya memberkati kita dengan kekayaan materi atau keuangan, karena “kekayaan” datang dalam berbagai bentuk. Kekayaan moneter hanyalah salah satunya, dan berapa banyak uang yang kita miliki tidak menunjukkan betapa diberkatinya kita.

Ajaran penting tentang kekayaan moneter bagi orang Kristen:

1. Uang tidak jahat. Keserakahanlah yang jahat.

2. Kekayaan datang dalam berbagai bentuk, bukan hanya uang.

3. Menjadi makmur secara finansial tidak menunjukkan betapa diberkatinya seseorang.

4. Baik pekerjaan maupun uang adalah netral. Kita bisa memberi makna positif atau negatif tergantung pada niat kita.

5. Kita mengurus hal-hal jasmani dan rohani, termasuk uang. Gunakan mereka untuk memberdayakan orang agar lebih dekat dengan Tuhan dengan iman dan ketulusan.

Kesimpulannya, sebagai seorang Katolik, tidak apa-apa untuk mandiri secara finansial sehingga Anda tidak membebani siapa pun, dapat menafkahi keluarga Anda, dan dapat menyumbang untuk berbagai tujuan yang bermanfaat tanpa mengorbankan diri Anda sendiri. Semoga kita semua berbuah dan diberkati dalam banyak hal.

Read More
Tahukah Anda?, Tahukah Anda Redaksi E-Bulletin Tahukah Anda?, Tahukah Anda Redaksi E-Bulletin

Arti “Anak Allah” Seperti Tertulis Dalam Injil

You hear and read, and you may write this many times, but what does the biblical title “Son of God” mean as it was said of Jesus in the Gospels?

a. of similar substance with the Father

b. I am He

c. the glory of God is upon me

d. He is the literal Son of God

e. God is my father figure


Answer: D
As Jesus declared, “I and the Father are one” (John 10:30) and “Have I been with you so long, and yet you do not know me, Philip? He who has seen me has seen the Father; how can you say, ‘Show us the Father’ ?” (John 14:9). Even though, out of humility, Our Lord spoke of Himself as the “Son of Man”, His followers (see Simon Peter, Matthew 16:16) and even enemies (sarcastically, in the case of Caiaphas Mark 14:61) referred to Him as the “Son of God” (see also Psalm 2:7). “That the Father, not the Son, had revealed Christ’s identity as the Son of God shows how profound was the significance of Peter’s words even if Peter himself had not yet fully sounded their depth. By this revelation the Father had singled out Peter as the natural foundation for His Son’s society and Our Lord, as ever, follows His Father’s lead.


Faith in divinity of Chris must henceforth be a criterion of the true society of Christ” (A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Bernard Orchard, ed., Thomas Nelson and Sons, London, 1952, p.858, 881).

Source/Sumber: Inquizition - by Patrick Madrid

================================

Anda telah mendengar dan membaca, dan Anda mungkin telah menulis ini berkali-kali, tetapi apa arti “Anak Allah” seperti yang dikatakan tentang Yesus dalam Injil?

Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa (Yohanes 14:9).

A. substansi yang serupa dengan Bapa

B. saya adalah Dia

C. kemuliaan Tuhan ada padaku

D. Dia adalah Anak Allah secara harfiah

e. Tuhan adalah sosok ayahku

Jawaban: D

Seperti yang Yesus nyatakan, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30) dan “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: ‘Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami’ ?” (Yohanes 14:9).

Karena kerendahan hatiNya, Tuhan Yesus berbicara tentang diri-Nya sendiri sebagai “Anak Manusia”, tetapi para pengikut-Nya (lihat Simon Petrus, Matius 16:16) dan bahkan kelompok yang ‘memusuhi’ Nya (secara sinis, dalam kasus Kayafas Markus 14:61) mengacu pada Dia sebagai “Anak Allah” (lihat juga Mazmur 2:7). “Bahwa Bapa, bukan Putra, yang telah mengungkapkan identitas Kristus sebagai Putra Allah menunjukkan betapa dalamnya makna kata-kata Petrus bahkan saat Petrus sendiri belum sepenuhnya menyadari kedalaman makna tersebut. Melalui pewahyuan ini Allah Bapa telah memilih Petrus sebagai pondasi umat Putra-Nya, Tuhan Yesus, yang mengikuti kepemimpinan Allah Bapa-Nya.

Keyakinan akan keilahian Kristus harus menjadi kriteria umat Kristus sejati” (A Catholic commentary on Holy Scripture, Dom Bernard Orchard, ed., Thomas Nelson and Sons, London, 1952, p. 858, 881).

Source/Sumber: Inquizition - by Patrick Madrid

Read More
Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin

Catholics Explain And Defend Mary

Sebagai orang Katolik, bagaimana kita menjelaskan & membela devosi kita kepada bunda Tuhan kita ?.

Mother Mary participates in the salvation works of Christ Her Son, and cooperates with Him to protect His Church until the end of time. The Catholic Church specifically dedicates the months of May and October as Marian Months. Why do we pray to Our Lady? As Catholics, we can explain & defend Our Lady to anyone (especially to those questions that come from non-Catholic Christians).

Question 1: “You Catholics worship Mary. You treat her like a 4th person in the Trinity.”
Answer:
Catholics worship God alone. We do not mistake a creature - even God's greatest creature - for the creator. We honor Mary. Why ? Because of the gifts God has given her. By making her His mother, God honored Mary more than we ever could. Scripture calls Mary “blessed” and promises that all generations will do likewise (Luke 1: 42,48). We honor Mary because Jesus honored her (perfectly obeying the 4th commandment) and we are called to imitate Christ.

Question 2: “You Catholics kneel and pray before the statues of Mary. You're worshipping idols.”
Answer:
Do you honestly believe the Catholics can’t tell the difference between the God of the universe and painted plaster ?. Protestants often kneel holding a cross or a bible. Are they worshipping mere wood or printed paper ? . No, they will tell you these are reminders of Jesus and His saving deeds. Likewise, images of God's victorious saints remind us of Jesus and His saving deeds. No good Catholic thinks he is worshiping Mary by kneeling before her image in prayer.

Question 3: “Statues of Mary violate God‘s commandment not to make graven images (Exodus 20:4-5).
Answer:
In exodus 20: 4-5 God prohibits the making of images for the purpose of worshiping them. But He does not prohibit making images altogether. In Exodus 25:18-19, God commands Moses to make statues of Cherubim. In Numbers 21:8, God tells Moses to make a bronze serpent. The Jews used many carved images in their temple, including angels, oxen, lions, palm trees, and flowers
(1 Kings 6 and 7). You probably have pictures in your wallet of your family and loved ones. These are man-made images. Are you worshipping them when you use these images to recall the people they represent? No. This same principle applies to the veneration of statues. Catholics use statues and other images merely to recall the holy people they represent.




============================

Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus Putera-Nya, dan bekerjasama dengan-Nya untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman. Gereja Katolik secara khusus mendedikasikan bulan Mei dan Oktober sebagai Bulan Maria. Mengapa kita berdoa kepada Bunda Maria? Sebagai orang katolik, kita bisa menjelaskan & membela Bunda Maria kepada siapa saja (terutama atas pertanyaan-pertanyaan yang datang dari orang-orang Kristen non-Katolik).
Pertanyaan 1: “Kalian umat Katolik menyembah Maria. Kalian memperlakukannya seperti orang ke-4 dalam Trinitas.”
Jawaban:
Orang Katolik hanya menyembah Tuhan. Kami tidak memandang sebuah ciptaan Tuhan sebagai sebagai Sang Pencipta itu sendiri - walaupun itu sebuah ciptaan yang paling hebat sekalipun.
Kami menghormati Maria. Mengapa ? Oleh karena semua karunia yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Dengan menjadikannya ibu-Nya, Tuhan menghormati Maria lebih dari yang bisa kita lakukan. Kitab Suci menyebut Maria "Yang Diberkati" dan berjanji bahwa semua generasi akan melakukan hal yang sama (Lukas 1: 42,48). Kami menghormati Maria karena Yesus menghormatinya (ini mematuhi isi perintah Allah ke-4 dengan sempurna) dan kami dipanggil untuk meniru teladan Kristus.

Pertanyaan 2: “Kalian umat Katolik berlutut dan berdoa di depan patung Maria. Kamu menyembah berhala.”
Jawaban:
Apakah Anda benar-benar percaya umat Katolik tidak dapat membedakan antara Tuhan alam semesta dan plester yang dicat?. Orang Protestan sering berlutut sambil memegang salib atau Alkitab. Apakah mereka hanya menyembah kayu atau kertas cetakan? . Tidak, mereka akan memberi tahu Anda bahwa ini adalah pengingat akan Yesus dan perbuatan penyelamatan-Nya. Demikian pula, gambaran orang-orang kudus Allah yang jaya mengingatkan kita akan Yesus dan karya penyelamatan-Nya. Tidak ada orang Katolik yang berpikir bahwa dia sedang menyembah Maria dengan berlutut di depan gambarnya dalam doa.

Pertanyaan 3: “Patung Maria melanggar perintah Tuhan untuk tidak membuat patung pahatan (Keluaran 20: 4-5).
Jawaban:
Dalam Keluaran 20: 4-5 Allah melarang pembuatan patung untuk tujuan pemujaan. Tapi Allah tidak melarang membuat gambar sama sekali. Dalam Keluaran 25:18-19, Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat patung kerub. Dalam Bilangan 21:8, Tuhan menyuruh Musa membuat ular perunggu.
Orang Yahudi menggunakan banyak patung ukiran di kuil mereka, termasuk malaikat, lembu, singa, pohon palem, dan bunga (1 Raja-raja 6 dan 7). Anda mungkin memiliki foto keluarga dan orang yang Anda cintai di dompet Anda. Ini adalah gambar buatan manusia. Apakah Anda menyembah gambar-gambar ini ketika Anda menggunakannya untuk mengingat mereka yang mereka wakili? Tidak. Prinsip yang sama berlaku untuk keberadaan patung dalam hidup doa orang Katolik. Umat ​​Katolik menggunakan patung dan gambar lain hanya untuk mengingat orang suci yang mereka wakili.



Source: San Juan Catholic Seminars - Beginning Apologetics book 6

Read More
Artikel & Renungan WKICU Admin Artikel & Renungan WKICU Admin

Is This God's Voice or Mine?

Is This God’s Voice or Mine?

Written by Jennie Xue, MTh, bilingual author based in NorCal

How often do you ask yourself, “Is this God’s voice or my own thoughts?". If you’re like me, probably quite often, especially whenever we need to make crucial decisions. First and foremost, let’s rephrase the question. It is better to ask, “How do we understand God in this?”; instead of affirming, “Is this God’s voice?”

Jeremiah 23:35–36 (NIV): “This is what each of you keeps saying to your friends and other Israelites: “What is the Lord’s answer?”; or “What has the Lord spoken?”; But you must not mention “a message from the Lord; again, because each one’s word becomes their own message. So you distort the words of the living God, the Lord Almighty, our God.” We shouldn’t be quick to judge a decision or an action as something that God asked us to do because we heard His voice. Why? Because if we actually did hear His voice, most likely, it was in our own mind where our thoughts also resided.

Inside our heads is an entanglement between His and ours, where the line can be quite blurry. However, there is a fine one, which is something that helps us listen to His voice. And we can hear His voice in our minds through prayers or other people, such as parish priests, friends, relatives, and strangers. Most of the time, His voice isn’t audible. However, you could listen to an audible voice like Samuel did (1 Samuel 3:1-10) and Gideon (Judges 6:17-22, 36-40).

Thus, how can we distinguish His voice amidst the noise in our heads?

First, God doesn’t contradict Himself. Any idea that comes from God always aligns with the Scripture. Thus, if you think the “voice”; asks you to do something against His teachings, you know it’s not from Him. In Psalm 89:34, God said, “Do you think I’d withdraw my holy promise or take back words already spoken?”; He will never ask you to do sinful or even hurting things to yourself or others. There is always a peaceful way to solve any issue.

Second, God doesn’t confuse us; He gives peace. Read this verse: 1 Corinthians 14:33 (NIV): “For God is not a God of confusion but of peace as in all the congregations of the Lord’s people. “God’s voice may not necessarily affirm our preferences, but it will give us deep peace.

Third, God doesn’t fuel our resentment but asks us to focus on Him. Whenever you hear a “voice” that fuels your hatred, confusion, or anger, it’s not His. God doesn’t fuel negativity but instead invites us to focus on Him through more profound prayers, reading the Bible, attending masses, or other positively peaceful and God-bound activities.

Fourth, God focuses on the heart of the issue. God doesn’t fixate on the same problem as we do. Instead, He helps us face hardships with our hearts in Him. This said the rumination in your mind isn’t His voice, so let it go.

Fifth, God may not directly answer your question. Whatever answer you’re looking for may not be directly answered, but He will guide you toward something or someone that may provide it. Psalm 119:105 says, “Your word is a lamp to my feet and a light to my path.” ; And be patient because it takes time for the answer to materialize.

Sixth, God doesn’t speak about others. He invites us to understand our hearts, not others. He wants us to focus on living our lives with faith in Him. Thus, if the “voice” in your head speaks about others, especially in negative tones, it’s certainly not God’s.

At last, may we all face the world with optimism and faith in Him. Christ always guides us in our confusion and uncertainty. For this, no uncharted territory is too scary for us to face. God be with us all.

=====

Apakah Ini Suara Tuhan ataukah Suaraku?

Ditulis oleh Jennie Xue, MTh, penulis dwibahasa yang tinggal di NorCal

Seberapa sering Anda bertanya pada diri sendiri, “Apakah ini suara Tuhan atau pikiran saya sendiri?". Jika Anda seperti saya, mungkin cukup sering, terutama di saat kita perlu membuat keputusan penting. Pertama dan yang terpenting, mari kita ulangi pertanyaannya. lebih baik kita bertanya, “Bagaimana kita memahami Tuhan dalam hal ini?”, daripada menegaskan, “Apakah ini sungguh suara Tuhan?”

Yeremia 23:35–36 (NIV): “Inilah yang selalu Anda katakan kepada teman Anda dan orang Israel lainnya: “Apa jawaban Tuhan?”; atau “Apa yang telah Tuhan katakan?”; Tetapi Anda tidak boleh menyebutkan “pesan dari Tuhan; lagi, karena kata-kata masing-masing menjadi pesan mereka sendiri. Jadi Anda memutarbalikkan firman Allah yang hidup, Tuhan Yang Mahakuasa, Allah kami.” Kita tidak boleh terburu-buru menilai suatu keputusan atau tindakan sebagai sesuatu yang Tuhan minta kita lakukan karena kita mendengar suara-Nya. Mengapa? Karena jika kita benar-benar mendengar suara-Nya, kemungkinan besar, itu ada di dalam pikiran kita sendiri di mana pikiran kita juga berada.

Di dalam kepala kita ada keterikatan antara Dia dan kita, di mana garisnya bisa sangat kabur. Namun, ada yang bagus, yaitu sesuatu yang membantu kita mendengarkan suara-Nya. Dan kita dapat mendengar suara-Nya dalam pikiran kita melalui doa atau orang lain, seperti pastor paroki, teman, kerabat, dan orang asing. Sebagian besar waktu, suaraNya tidak terdengar. Namun, Anda dapat mendengarkan suara yang terdengar seperti Samuel (1 Samuel 3:1-10) dan Gideon (Hakim 6:17-22, 36-40).

Lantas, bagaimana kita bisa membedakan suara-Nya di tengah kebisingan di kepala kita?

Pertama, Tuhan tidak bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Setiap ide yang berasal dari Tuhan selalu sejalan dengan Kitab Suci. Jadi, jika Anda memikirkan "suara"; meminta Anda untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran-Nya, Anda tahu itu bukan dari-Nya. Dalam Mazmur 89:34, Tuhan berkata, “Apakah menurutmu Aku akan menarik janji suci-Ku atau menarik kembali kata-kata yang sudah diucapkan?”; Dia tidak akan pernah meminta Anda untuk berbuat dosa atau bahkan menyakiti diri sendiri atau orang lain. Selalu ada cara damai untuk menyelesaikan masalah apa pun.

Kedua, Tuhan tidak membingungkan kita; Dia memberi kedamaian. Bacalah ayat ini: 1 Korintus 14:33 (NIV): “Sebab Allah bukanlah Allah kekacauan, melainkan Allah damai sejahtera seperti dalam semua jemaat umat Tuhan. “Suara Tuhan mungkin belum tentu menegaskan preferensi kita, tetapi itu akan memberi kita kedamaian yang mendalam.

Ketiga, Tuhan tidak mengobarkan kebencian kita tetapi meminta kita untuk fokus pada-Nya.
Setiap kali Anda mendengar “suara” yang mengobarkan kebencian, kebingungan, atau kemarahan Anda, itu bukanlah suara-Nya. Tuhan tidak menyulut kenegatifan tetapi malah mengundang kita untuk fokus kepada-Nya melalui doa yang lebih mendalam, membaca Alkitab, menghadiri misa, atau aktivitas positif damai dan terikat Tuhan lainnya.

Keempat, Tuhan berfokus pada inti masalah. Tuhan tidak terpaku pada masalah yang sama seperti kita. Sebaliknya, Dia membantu kita menghadapi kesulitan dengan hati kita di dalam Dia.
Ini mengatakan bahwa perenungan dalam pikiran Anda bukanlah suara-Nya, jadi biarkan saja.

Kelima, Tuhan mungkin tidak langsung menjawab pertanyaan Anda. Jawaban apa pun yang Anda cari mungkin tidak langsung dijawab, tetapi Dia akan membimbing Anda menuju sesuatu atau seseorang yang mungkin menyediakannya. Mazmur 119:105 mengatakan, “Firmanmu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” ; Dan bersabarlah karena butuh waktu untuk jawaban terwujud.

Keenam, Tuhan tidak berbicara tentang orang lain. Dia mengajak kita untuk memahami hati kita, bukan orang lain. Dia ingin kita fokus menjalani hidup kita dengan iman kepada-Nya. Jadi, jika “suara” di kepala Anda berbicara tentang orang lain, terutama dengan nada negatif, itu pasti bukan suara Tuhan.

Akhirnya, semoga kita semua menghadapi dunia dengan optimisme dan iman kepada-Nya. Kristus selalu membimbing kita dalam kebingungan dan ketidakpastian kita. Untuk ini, tidak ada wilayah yang belum dipetakan yang terlalu menakutkan untuk kita hadapi. Tuhan menyertai kita semua.

Read More
Apa dan Siapa WKICU Admin Apa dan Siapa WKICU Admin

Jambore 2023

Ditulis oleh Cynthia (Thia)

TubuhKu untuk Hidup Dunia (Ekaristi)” adalah tema Jambore KKI USA – Canada yang telah diselenggarakan di Houston, Texas tepatnya di Torrey Pines Conference Center (TPCC) pada tanggal 27-29 Mei 2023. Di lokasi inilah 16 KKI dari seluruh Amerika berkumpul. Gak tanggung-tanggung, ajang pertemuan itu mampu menghadirkan 340 peserta, belum ditambah 23 imam, 6 orang suster, dan 2 calon suster. Dalam acara Jambore itu WKICU bisa sedikit ikut senang dan berbangga telah ambil bagian. KKI Houston dan tetangganya, KKI Austin memang paling mendominasi jumlah peserta dalam ajang itu. Meski kita hanya mampu mengumpulkan limabelas orang perwakilan, tetapi yah paling tidak cukup menggenapi kelengkapan peserta Jambore.

Bendera semua KKI yang hadir

Romo-romo dengan putra/i altar

Persiapan matang menjelang keikutsertaan Jambore 2023 sudah dirancang oleh pengurus WKICU sejak undangan dilayangkan oleh KKI Houston. Agar menarik minat dan partisipasi umat untuk hadir dalam acara itu, pengurus WKICU merancang program subsidi, dan tentu saja untuk menutupi biaya itu penggalangan dana melalui fund raising penjualan makanan adalah salah satu cara cepat, cermat dan effektif yang biasa kita lakukan. Team fund raising yang dikepalai oleh Susanti Kho alias Mei-Mei – dibantu Cynthia (Thia), Marcella dan Agem – bergerak cepat mengumpulkan vendor makanan, merancang flyer, meng-kalkulasi harga serta memasarkannya kepada umat.

Satu bulan sebelum berangkat ke Houston, 15 peserta dari WKICU yang akan berangkat sudah siap dengan berkoordinasi melalui WAG (WhatsApp Group) untuk latihan koor. Kita mendapat jatah dari panitia acara untuk menyanyikan lagu penutup untuk misa hari ke-dua (dari tiga hari rangkaian pelaksanaannya). Persiapan latihan yang meski terasa sulit dalam mengumpulkan peserta, akhirnya terlaksana juga. Latihan dadakan di rumah Agem satu minggu sebelum keberangkatan terasa masih sangat kurang. Untungnya setelah sampai Houston, di hari ke-dua, kami dibantu oleh pemain piano KKI Houston, Widianto (Anto) untuk latihan sekali lagi sebelum misa Pantekosta dimulai. Anto dengan semangat dan senang hati membantu group WKICU untuk latihan di menit terakhir sehingga kami semua bisa bernyanyi dengan baik. Setelah misa selesai, WKICU mendapat banyak masukan yang cukup baik terutama karena lagu nya, Anggur Baru adalah lagu yang bisa membuat orang ikut bergoyang.

Peserta WKICU

Peserta WKICU

Panitia Jambore Houston, Windra Sugiaman (ketua KKI Houston) dan sang suami Frankie Sugiaman yang bertindak selaku ketua Jambore telah merencanakan acara besar ini dengan pasukan mereka yang sangat kompak dan penuh semangat.

Ada tiga kelompok yang dibagi oleh panitia dalam program acara; bincang-bincang dengan romo/suster, peserta dewasa dan OMK (remaja-anak kuliah), juga program untuk anak-anak. Para Panitia Jambore mendapat bimbingan dari Chaplain KKI Houston, Romo John Taosan–Archdiocese Of Houston Galveston. Beberapa acara yang disiapkan oleh panitia adalah acara perkenalan KKI, talks, talent show, dan games. Romo Tarsius Puling, SVD menjadi MC (Master Ceremony) yang jempolan. Dengan lelucon dan gayanya yang kocak dan santai beliau mampu menarik perhatian seluruh peserta.

Acara Jambore selama 3 hari itu menekankan kutipan kitab Yohanes 6:51 yang berbunyi “Akulah roti yang telah turun dari sorga. Jikalau seseorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Penekanan kutipan itu mengajak para peserta untuk merenungkan hubungan intim mereka dengan Kristus, yang mengasihi kita tanpa syarat, dan untuk menegaskan kembali keyakinan kita akan kehadiran nyata-Nya di setiap Ekaristi. Hal itu dicapai melalui berbagai kegiatan antara lain tiga ceramah, tiga misa, adorasi dan doa/refleksi subuh. Salah satu pesan yang disampaikan oleh Romo Albertus Joni, SCJ adalah “Jangan takut, percaya saja”.

Sementara, di group OMK, beberapa romo dan Suster Skolastika Wea, SSpS mendiskusikan tentang “kekurangan panggilan agama.” Pembicaraan mengenai kurangnya orang yang masuk dunia agama sangatlah penting karena berkaitan dengan tema utama Jambore yaitu Ekaristi, karena kalau imam/romo berkurang, maka akan berkurang pula umat-umat yang menerima Sakramen Ekaristi.

Acara-acara yang lain seperti permainan, temu kenal romo/suster, talent show, perkenalan KKI, dan adorasi/pengakuan dosa juga sangat berkesan karena dalam kesempatan itu semua peserta dari semua KKI yang hadir bisa berkenalan satu dengan yang lain. Saat itu kita merasa sangat akrab, banyak orang bisa saling kenal, berbincang, bertawa ria, dan saling menguatkan iman bersama-sama dengan bimbingan para Romo dan suster.

Acara itu juga menjadi semakin meriah dengan tampilan pembuka acara lewat tarian daerah dengan pakaian adatnya yang sangat penuh corak warna-warni dan menarik. Seluruh dekorasi ajang itu juga sangat Indonesia. Mengingatkan slogan yang pernah didengungkan oleh Romo Soegija Pranata, SJ; “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia.”

Penari Tor-Tor

Penari Lenggang Nyai

Pada misa hari terakhir, Jambore kita kedatangan tamu kehormatan. Uskup Italo hadir dan memberikan sambutan dengan didampingi oleh dua diakon dan 23 Romo. Uskup Italo sempat berpesan kepada semua Romo Indonesia supaya iman mereka tetap kuat terutama yang bertugas di Amerika Serikat sehubungan dengan banyaknya pengaruh-pengaruh buruk. Kepada umat yang hadir, beliau sangat senang melihat rasa kebersamaan dan ikatan keluarga Katolik Indonesia - Canada melalui Jambore.

Romo-romo bersama diakon dan Uskup Italo

Foto group peserta Jambore 2023

Ketua KKI Houston, Windra Sugiaman menjelaskan secara singkat bahwa persiapan akomodasi sudah dari tiga setengah tahun sebelumnya tetapi dikarenakan pandemic rencana mereka mundur terus walaupun tempat sudah di booking dari jauh hari dan deposit sudah dibayar.

“Rencana semula kita akan mengadakan Jambore ini tahun 2021,” terang Windra

“Persiapan konsumsi dan acara di mulai enam bulan sebelumnya, sekitar dari Januari 2023. Latihan menyanyi koor dan menari secara tetap dan teratur sekitar tiga bulan sebelumnya. Sedangkan mencari pembicara, kami cari setahun sebelumnya. Di antara kami (panitia Jambore), banyak juga yang mendapat tugas double, namun semua itu kami kerjakan dengan senang hati dan penuh semangat. Peranan para romo dan seluruh ketua KKI sangat penting untuk terus menerus memberikan dorongan dan semangat kepada kami selaku panitia acara. Komunitas kami di sini tidak banyak….,” jelas Windra

“Kami dibantu oleh Romo John yang berperan besar mengurus surat-surat undangan kepada para romo lain untuk hadir di Jambore, sekaligus mengurus surat suitability ke keuskupan. Tetapi tidak semua romo yang diundang bisa hadir karena perlu waktu untuk urusan visa, ijin pimpinan dan lain-lainnya. Di tambah pula karena kami mengundang pembicara dari Indonesia, mungkin kalau dari US akan lebih mudah. Target kami waktu masa persiapan adalah untuk sekitar 300 orang dan kami juga berminat untuk mengundang seluruh mudika (generasi KKI yang seterusnya) di acara Jambore tahun ini. Tidak disangka, banyak yang berminat sehingga melewati target kami sampai 340 padahal masih termasuk masa pandemi. Semua  acara berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan,” papar Windra dengan nada puas dan penuh syukur.

Berikut beberapa kesan dari peserta WKICU yang hadir dalam Jambore itu:

-“Menyenangkan, berjejaring dan dapat berdiskusi dengan orang-orang dari KKI lain.” - Gio

- “Kesan keseluruhan bagus. Saya sendiri, sebagai peserta yang baru pertama kali ikut Jambore merasa senang bisa bertemu dan menjalin ikatan dengan sesama Katolik Indonesia lainnya dari bagian lain Amerika Serikat. Pasti saya akan merekomendasikannya kepada orang lain untuk ikut acara Jambore berikut.”- Budi

-“Itu bagus secara keseluruhan! Penataan kamarnya bagus dalam artian banyak OMK jadi kami bisa bonding. Tapi banyak OMK yang tidak tinggal bersama kami yang ditinggalkan yang agak menyedihkan (mis: Diandra tinggal sendiri) dan agak terburu-buru di akhir. Harusnya menyisakan slot waktu untuk sekadar mengisi waktu luang dengan OMK/Romo lainnya karena baru kenalnya kemaren soalnya. Juga, berpasangan dengan Romo dan rotasi adalah cara yang baik untuk mengenal sebagian besar para Romo dan suster yang hadir. Johanes (OMK Houston) memainkan gitar dan sementara Evan (OMK LA) main piano buat acara OMK talk. Di hari pertama dimana kita harus memakai baju beda warna buat semua peserta KKI beda itu keren karena membuat anda melihat betapa berbedanya KKI dari area berbeda bersatu. Itu benar-benar menunjukkan seberapa besar komunitas katolik dan bahwa anda tidak sendirian dalam iman anda. Dalam hal OMK khususnya, melihat OMK lain dari negara bagian lain sangat mengagumkan. Peluang bagus untuk terhubung dan membuat cara kreatif yang keren untuk berkolaborasi.” - Jenifer

-“Saya selalu menikmati dan bersenang-senang di Jambore. Itu memungkinkan saya untuk bertemu orang baru dari berbagai KKI di seluruh AS. Juga, itu memungkinkan saya untuk menerima berkah karena bisa bertemu begitu banyak Romo dan suster di satu tempat. Pasti akan pergi ke yang berikutnya. Semoga lebih banyak orang dari WKICU yang datang juga. Pujian besar untuk KKI Houston atas kerja keras dan kesuksesan Jambore tahun ini dan karena sangat akomodatif dan ramah terutama kepada para tetua dengan menyediakan transportasi di sekitar fasilitas. Hanya sayang kalau sebagian dari peserta WKICU dan KKI lain nya serta beberapa Romo dan suster harus terburu-buru naik bis untuk ke airport pada akhir terakhir setelah misa dengan Uskup Italo jadi tidak bisa meyaksikan acara tari penutup dan acara pementasan angklung” – Cynthia (Thia)

Pak Ade, ketua KKI Seattle menerima patung “Good Shepherd” dari Ibu Windra, ketua KKI Houston sebagai host Jambore 2025

Secara keseluruhan acara Jambore 2023 ini sangatlah sukses. Banyak sekali hal-hal baru dan positif yang didapatkan para peserta.

Pelaksanaan Jambore KKI USA - Canada 2023 telah berlangsung dangan sukses dan meriah, saatnya kini menyongsong Jambore berikutnya tahun 2025. Semoga dari setiap pelaksanaan Jambore yang telah terselenggara akan menghasilkan pembelajaran dan pengalaman bagi kita semua untuk mempersiapkan ajang perhelatan besar Komunitas Katolik Indonesia ini menjadi lebih baik dan semakin berkembang. Membangun ikatan persaudaraan di antara umat beriman adalah panggilan tugas kita. Seperti Allah sendiri berfirman dalam Matius 18:20 _

“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Mari rangkai dan kuatkan jalinan ikatan iman kita dengan semangat pelayanan tanpa lelah. Mempersiapkan segalanya bagi terlaksananya pertemuan akbar seperti Jambore ini adalah juga melaksanakan kehendak Allah.

Pesan kami bagi saudara seiman di Seattle, jangan khawatir dan ragu…..DIA akan beserta kalian dalam setiap langkah dan rencana persiapan. Mempersiapkan kehadiran Allah di tengah-tengah kita janganlah dijadikan sebuah beban. Bersuka citalah, karena Dia akan hadir bersama kalian mulai dari awal hingga akhir. Semua jalan dan pintu akan terbuka. Dengan penyertaan-Nya dalam setiap langkah dan rencana, hambatan dan rintangan malah akan menjadikan iman kita semakin kuat.

Sampai jumpa di Seattle di tahun 2025 yang akan datang! Selamat bekerja, KKI Seattle.

Tuhan menyertai kalian dan kita semua! 

Read More
Tahukah Anda?, Tahukah Anda Redaksi E-Bulletin Tahukah Anda?, Tahukah Anda Redaksi E-Bulletin

Tertianship

What is Tertianship?

a. Another name of Noah’s ark giant ship

b. The third US battleship in the second world war

c. The last stage of Jesuit Formation

d. The third book of Torah

e. The unpublished third letter of St Peter

Answer: c. The last stage of Jesuit Formation

The formation of a Jesuit is a journey that can last more than fifteen years and encompasses five key stages:

1. The Novitiate: ~ 2 years, learn about community, ministry, the Society of Jesus and Ignatian spirituality, and make a 30-day retreat. After those first two years, these men pronounce vows of poverty, chastity and obedience.

2. First Studies: ~ 3 years, studying philosophy and theology, while serving in community.

3. Regency: ~ 3 years, active ministry, like an internship.

4. Theology Studies: ~ 3 years, a final step towards priestly ordination. After receiving the Sacrament of Holy Orders, a Jesuit is sent on his first assignment as a priest.

St. Ignatius of Loyola

5. Tertianship: Jesuit formation doesn’t stop after ordination. A Jesuit usually begin Tertianship three to five years after ordination. It is intended to be a time of renewal. A Jesuit revisits the foundational documents and history of the Society of Jesus. As he did as a novice, a Jesuit in tertianship once again makes the Spiritual Exercises of St. Ignatius Loyola. Known as the Long Retreat, the tertian prays in silence for 30 days. Tertianship is typically a nine-month program that includes spiritual training and apostolic ministry. After the tertianship, the Jesuit is called to pronounce a fourth and final vows to serve the Pope, the Church and the Society of Jesus.

Father Stefanus Hendrianto, SJ., is an Indonesian-born Jesuit priest and a member of the USA West Province of the Society of Jesus (Jesuit West). After his ordination in June 2019, Father Hendri was assigned by the Jesuit West to serve WKICU. Having served WKICU for over a year, Father Hendri received a new teaching assignment at the Gregorian University in Rome. After more than two years working in Rome, Father Hendri will start his Tertianship in Portland, Oregon, in October 2023, and the program will finish at the end of May 2024. Father Hendri is currently staying at Santa Clara University.

Source / Sumber: Jesuit Conference of Canada and the United States. https://beajesuit.org/jesuit-formation/


Apakah itu Tersiat?

A. Nama lain dari kapal raksasa bahtera Nuh

B. Kapal perang AS ketiga dalam perang dunia kedua

C. Tahap terakhir Formasi Jesuit

D. Kitab Taurat ketiga

e. Surat ketiga St Peter yang tidak diterbitkan

Jawaban: c. Tahap terakhir Formasi Jesuit

Pembentukan seorang Jesuit adalah sebuah perjalanan yang dapat berlangsung lebih dari lima belas tahun dan mencakup lima tahap kunci:

1. Novisiat: ~ 2 tahun, belajar tentang komunitas, pelayanan, Serikat Yesus dan spiritualitas Ignasian, dan melakukan retret 30 hari. Setelah dua tahun pertama itu, orang-orang ini mengucapkan kaul kemiskinan, kesucian, dan ketaatan.

2. Studi Pertama/Filsafat: ~ 3 tahun, belajar filsafat dan teologi, sambil mengabdi di komunitas

3. Tahun Orientasi Kerasulan: ~ 3 tahun, aktif dalam ‘panggilan’ melalui kerja nyata

St. Claude La Colombière - Santo Pelindung Para Tertian

4. Studi Teologi: ~ 3 tahun, langkah terakhir menuju penahbisan imam. Setelah menerima Sakramen Tahbisan, seorang Jesuit diutus untuk tugas pertamanya sebagai imam.

Romo Stefanus Hendrianto, SJ

5. Program Tersiat: pembinaan Jesuit tidak berhenti setelah penahbisan. Seorang Jesuit biasanya memulai program Tersiat tiga sampai lima tahun setelah pentahbisan. Program ini dimaksudkan sebagai masa pembaharuan.
Seorang Jesuit meninjau kembali pedoman dasar dan sejarah Serikat Yesus. Seperti yang dilakukannya sebagai novis, dalam masa Tersiat, seorang Jesuit juga menjalani Latihan Rohani St. Ignatius Loyola yang dikenal sebagai Retret Panjang, berdoa dalam keheningan selama 30 hari. Tersiat biasanya merupakan program sembilan bulan yang mencakup latihan rohani dan pelayanan kerasulan.
Setelah program Tersiat, Jesuit dipanggil untuk mengucapkan kaul keempat dan terakhir untuk melayani Paus, Gereja dan Serikat Yesus.

Romo Stefanus Hendrianto, SJ adalah Romo Yesuit kelahiran Indonesia dan merupakan anggota Provinsi Serikat Yesus Amerika Serikat bagian barat (Jesuit West). Setelah ditahbiskan sebagai Imam pada bulan Juni 2019, Romo Hendri ditugaskan oleh Jesuit West untuk melayani WKICU. Setelah melayani WKICU lebih dari satu tahun, Romo Hendri mendapat penugasan baru untuk mengajar di Universitas Gregoriana di Roma. Setelah bertugas selama lebih dari dua tahun di Roma, beliau akan memulai program Tersiat nya di Portland, Oregon bulan Oktober 2023, dan program itu akan berakhir pada akhir bulan Mei 2024. Romo Hendri saat ini tinggal di kampus Universitas Santa Clara.

Read More
Apa dan Siapa WKICU Admin Apa dan Siapa WKICU Admin

Hock Chuan dan Swan Oey

Seperti apa yang telah diyakini oleh tante Swan dalam kisah perjalanan hidup ini —Jalan Tuhan itu memang luar biasa—

Ditulis oleh Agem

Cuaca cerah pagi hari menemani saat melintas freeway 580 East menuju daerah San Ramon. Hangatnya sinar matahari meletupkan semangat saya berkendara menuju rumah pasangan sepuh WKICU yang akrab kita sapa Om Hock Chuan dan Tante Swan. Sudah lama team ebulletin ingin menulis kisah dan perjalanan hidup pasangan bersahaja ini. Team ebulletin yakin, apapun cerita tentang mereka selalu akan menarik dan sangat meng-inspirasi.

Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Mobil meluncur pelan memasuki daerah perumahan yang tampak hijau di kanan-kiri jalannya. Mata saya melirik layar The Global Positioning System (GPS) yang terpasang di dashboard mobil sambil sesekali memperhatikan nomor rumah tujuan.

……………..“The destination is on your right…” terdengar suara perempuan dari si-mesin pintar itu. Apa selalu suara seorang perempuan yang keluar? Entahlah

Saya angkat kaki dari pedal gas mengurangi laju kendaraan, nomor rumah tujuan sudah terlihat. Saya berhenti di depan halaman yang terlihat asri. Dari dalam mobil tampak seseorang membuka pintu rumah lebar-lebar.  Tante Swan muncul dengan wajah yang cerah penuh senyum. Di belakangnya berdiri sang suami, Om Hock Chuan dengan senyum tak kalah cerah. Dalam sekejap saya sudah turun mobil menemui mereka dan saling bertegur salam, bertanya kabar dan kemudian kami bertiga masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu. Di situ ada sofa putih bersih dan rapih. Mata saya sempat melihat sekeliling ruangan sebelum duduk manis. Terlihat furniture, hiasan dan ornament di rumah itu tertata apik, tidak ada yang tidak sesuai pada tempatnya. Semua begitu serasi. ––“Pasti repot dan capek sekali mengurus rumah tetap rapih kayak gini,” gumam saya dalam hati.

***

Perbincangan kami di ruang tamu pagi itu terasa akrab dan hangat. Tante Swan menjadi juru bicara dalam obrolan hari itu. Beliau-lah yang lebih banyak bercerita dan memberikan penjelasan. Seperti sudah siap dengan arah wawancara, Tante Swan juga telah menyiapkan beberapa photo kenangan yang akan semakin memperkuat cerita hidup mereka. Om Hock Chuan yang duduk bersama di ruangan itu, dalam perbincangan lebih hanya meng-iya-kan dan menambahkan sedikit keterangan yang masih beliau ingat. Om sedikit kesulitan mengingat dan menangkap pertanyaan saya oleh karena di usianya yang menjelang 89 tahun itu pendengaran beliau sudah kurang mendukung. Beruntung bahwa sang istri sudah menemani beliau selama 53 tahun. Segala peristiwa dan jalan hidup sang suami adalah jalan dan cerita hidupnya juga. ––“Mereka telah menjadi satu, bukan lagi dua.”–– Matius 19:6

Dalam pertemuan itu saya melihat wajah Om Hock Chuan berbinar mengingat segala kenangan, sesekali menerawang membayangkan masa-masa ketika cerita itu terjadi. Saya duduk berdampingan dengan Om di sofa panjang. Saya melihat beliau begitu asyik mendengarkan sang istri merangkai setiap kenangan hidup mereka. Dari sofa seberang yang berhadap-hadapan – dibatasi meja kaca bening bertaplak putih pada bagian tengahnya– tampak Tante Swan sesekali memandang dan bertanya kepada sang suami untuk lebih meyakinkan cerita.

Om Hock Chuan yang duduk di sebelah saya adalah pria ramah baik hati dan murah senyum. Selain juga seorang deacon beliau adalah salah satu pentolan pendiri kelompok Katolik Indonesia California Utara (WKICU). Beliau memiliki nama lengkap Hock Chuan Oey. Lahir di Caracas, sebuah desa kecil di Jawa Barat pada 18 Februari 1934. Lulusan biochemistry sebuah perguruan tinggi negeri terkenal di Bandung, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Hock Chuan Oey adalah anak pertama dari enam bersaudara (tiga laki-laki dan tiga saudari perempuan). Hanya beliau sendiri yang hijrah ke Amerika sementara orang tua dan kelima adiknya tetap berada di Cirebon, Jawa barat.

***

**Pertemuan yang merubah jalan hidup.

Menurut cerita, yang dijelaskan oleh sang istri dan dibenarkan oleh Hock Chuan sendiri, mereka berada di Amerika ini hanya karena kejadian biasa. Kejadian biasa yang kemudian menuntun mereka ke jalan hidup yang luar biasa.

Kisah ini dimulai dari mengantar seorang teman baik Hock Chuan ke airport untuk kembali pulang ke Utah, Amerika setelah kunjungannya ke Bandung. Dalam perjalanan itu terjadi percakapan diantara dua orang sahabat.

“Kamu enak yah bisa tinggal, berkarier dan hidup di Amerika,” tanya Hock Chuan kepada sahabatnya itu.

“Loh, kamu bisa saja ke Amerika kalau mau. Kamu seorang biochemist dan punya pengalaman di laboratorium. Kenapa nggak?” ujar sahabatnya itu.

“Kamu-kan sudah punya rumah sendiri? Kalau itu dijual, cukup untuk modal ke Amerika,” sambungnya lagi.

Dari percakapan sepanjang jalan ke bandara itu Hock Chuan muda merasa jadi sangat bersemangat dan terbangkitkan impiannya. Sebagai anak muda yang memang menyukai tantangan, pekerja keras, ulet dan punya impian besar Hock Chuan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mencoba saran itu. Dengan modal nekat dan tekad beberapa hari kemudian, dari desanya Caracas beliau lari ke Jakarta menuju Kedutaan Besar Amerika untuk mengajukan visa immigrasi. Berbekal ilmu biochemistry yang didapat dari ITB tempatnya kuliah serta pengalaman kerjanya di laboratorium penelitian selama beberapa tahun setelah kelulusannya – dan tentunya ditambah saran menjual rumah sebagai modal – Hock Chuan muda melangkah dengan pasti.

**Asam di gunung dan garam di laut, bersatu dalam belanga.

“Enam bulan kemudian pengajuan visa itu diterima,” terang Tante Swan membuka cerita.

Harapan terbentang luas bagi Hock Chuan muda. Kabar gembira segera menyeruak dalam keluarga, tetapi kegembiraan itu rupanya tidak dirasakan oleh seluruh keluarga. Kegembiraan itu hadir bersamaan dengan ganjalan dalam hati sang Ibu. Hock Chuan, sebagai putra pertama ini terlalu sibuk belajar dan bekerja hingga di usianya yang sudah kepala tiga (baca usia 30-an) belum juga menemukan pasangan hidup. Sang ibu pun menyarankan Hock Chuan sebaiknya menikah dahulu sebelum berangkat ke Amerika.

Swan Oey lahir pada 11 November 1948 di Surabaya, Jawa Timur dengan nama asli Swan Hoo, yang kemudian mendapat tambahan nama Oey dibelakangnya setelah menikah. Beliau lahir dan besar di pusat kota Surabaya, tepatnya di sekitar Jembatan Merah yang bersejarah itu.

Swan Hoo adalah anak bontot dari lima (5) bersaudara. Salah satu saudaranya meninggal sejak kecil dan Swan Hoo hidup dengan tiga saudara perempuan dan satu laki-laki.

“Sebetulnya saya lima bersaudara tetapi yang nomor tiga meninggal. Kakak pertama saya laki-laki tidak tinggal bersama kami sejak lahir. Waktu Ibu saya akan melahirkan anak pertama mengalami masalah, dokter memberikan pilihan sulit. Dia bilang, anaknya yang mati atau mama yang mati. Yah, tentu saja Ayah saya berharap kalau bisa dua-duanya jangan mati,” cerita Tante Swan.

Baik mama atau kakak laki-lakinya berhasil diselamatkan tetapi sebagai gantinya, dan mengikuti kepercayaan orang tionghoa umumnya, kakaknya harus diberikan kepada keluarga lain, maka jadilah sang kakak diasuh oleh nenek –mama dari Ibunya Tante Swan– dan dianggap sebagai anak.

“Kakak pertama saya memanggil mamanya dengan sebutan tante,” jelasnya sambil tertawa.

Kemudian kakaknya yang nomor dua lahir, seorang perempuan. Diceritakan Tante Swan bahwa kakak nomor duanya ini adalah kesayangan ayahnya. Lalu lahir anak ke tiga tetapi kemudian meninggal. Setelah itu lahir kakak nomor 4, laki-laki dan dia menjadi anak kesayangan sang Ibu.

“Tinggal saya yang paling bontot tidak kebagian apa-apa. Orang sering bilang bahwa anak bontot itu paling disayang. No way, no way. —Ayah saya bilang ke saya; kamu adalah satu-satunya anak yang kita tidak kasih apa-apa — Rasanya mau nangis waktu itu tetapi saya malah mengatakan; “Pah, jangan khawatir, doa restunya saja. Doa restu papa sudah cukup…,” kenang Tante Swan dengan mata berkaca-kaca.

Tante Swan berhenti sejenak ketika menceritakan kisah masa lalunya. Om Hock Chuan yang duduk disamping saya melihat wajah sang istri dengan tatapan lembut.

“Saya kenal si Om dari kakak perempuan saya yang nomor dua, Lien. Mereka satu angkatan dan kebetulan mengambil jurusan yang sama di ITB. Kalau main ke tempat kakak di Bandung, saya sering bertemu dengan si Om. Dan memang akhirnya saya tinggal di rumah kakak saya untuk membantu mengurus anaknya” lanjut Tante Swan.

“Jalan Tuhan itu memang luar biasa. Setelah pengajuan imigrasi ke kedutaan Amerika diterima, Om langsung memasukkan nama saya ke dalam permohonan visa. Waktu itu padahal kita belum menikah tetapi tanpa kesulitan dan hambatan penambahan nama saya langsung disetujui kedutaan. Maka itu saya bilang, ini memang sudah jalannya Tuhan,” terang Tante Swan penuh keyakinan.

Pasangan ini kemudian menikah di bulan Desember tahun 1970 di Surabaya dan tidak sampai satu tahun berselang mereka berangkat ke Amerika tepatnya di bulan Mei, tahun 1971.

***

**Menjalin kisah hidup di Amerika.

Bagi Hock Chuan Oey, Amerika adalah harapan masa depan keluarga yang akan mereka bina, terutama untuk pekerjaan dan karir beliau sebagai peneliti di laboratorium dan juga masa depan anak yang mereka harapkan kelak.

Mereka masuk melalui Hawaii dan mendapatkan green card dari sana, kemudian dari Hawaii mereka terbang ke Los Angeles.

“Saya gak tahu kenapa harus masuk lewat Hawaii dulu. Pokoknya port of entry kita waktu itu di Hawaii,” jelas tante Swan.

Meski sudah mengantongi green card dan masuk resmi dengan lancar tidak berarti perjuangan hidup mereka tanpa rintangan. Sesampai di Los Angeles, harapan Hock Chuan untuk bisa bersekolah di Medical Technologies kandas. Sekolah ini adalah satu-satunya harapannya karena dengan bersekolah di sana berarti Hock Chuan dapat menimba ilmu secara gratis sekaligus mendapat bayaran karena mereka juga mempekerjakan para pelajar di laboratorium milik sekolah itu.

“Saya sudah telat mendaftar waku itu, dan kalau mau masuk harus nunggu pembukaan berikutnya, tiga tahun lagi. Om bisa-nya cuma kerja di bidang itu, di laboratorium. Kita gak bisa nunggu begitu lama. Bagaimana membiayai hidup?” Om Hock Chuan dengan wajah serius menjelaskan.

Tante Swan menambahkan. “Kalau masuk sekolah itu tidak bayar, malah si om dibayar. Ada gajinya karena sekaligus kerja di rumah sakit sekolah itu.”

Tutupnya pendaftaran sekolah yang diidamkan menjadi batu hambatan pertama pupusnya harapan tinggal di California. California adalah tujuan dan tempat impian mereka untuk memulai hidup baru di Amerika, saat itu Los Angeles seperti menutup pintu bagi kedatangan mereka.

Tidak mau menunggu tiga tahun untuk apa yang ingin diraih sang suami, Swan teringat akan sang kakak perempuan nomor duanya, Lien yang mempertemukan mereka. Diceritakan pula oleh Tante Swan bahwa kakak perempuannya ini, setelah lulus kuliah kemudian menikah dengan seorang dokter yang bertugas di kepolisian dan mereka menetap di Bandung. Beliau dan suaminya ini pernah mengajukan visa ke Amerika tetapi ditolak.

“Waktu itu kalau mengajukan visa berdasarkan profesi, kakak saya dan suaminya menggunakan profesi suami sebagai dokter. Mereka ditolak karena sudah banyak dokter. Kemudian kakak saya mencoba lagi dengan menggunakan profesinya sebagai seorang biochemist, eh… akhirnya malah diterima. Mereka berdua berangkat ke Amerika dan tinggal di Texas satu tahun lebih dulu dari kita,” jelas Tante lagi.

“Kita itu gak bawa uang banyak waktu ke sini. Kalau dibandingkan kakak perempuan saya dan suaminya yang dokter, uang kita gak ada apa-apanya,” sambung Tante Swan sambil tersenyum.

Sewaktu menerima telpon dari tante Swan, sang kakak menjelaskan bahwa di Texas juga ada sekolah Medical Technologies seperti di LA. Gratis tidak dipungut bayaran akan tetapi mereka tidak mempekerjakan para pelajarnya sehingga tidak ada gaji atau bayaran bagi mereka yang bersekolah di situ. Sang kakak lantas juga berbaik hati menawarkan mereka untuk tinggal di rumahnya dan menyarankan Hock Chuan untuk melamar ke rumah sakit tempat dia dan suaminya bekerja karena di sana masih butuh biochemist. Hock Chuan pun kemudian dapat bekerja di rumah sakit itu sambil melanjutkan sekolah memperdalam ilmu yang digelutinya. Saat itu Swan Oey dengan setia menemani dan mengurus sang suami sekaligus membantu sang kakak mengurus rumah.

Selang tiga belas bulan kemudian Hock Chuan dan Swan Oey memutuskan untuk menyewa apartement dan hidup mandiri. Mereka menyewa sebuah apartment sederhana di downtown Texas. Swan mengambil kesempatan itu untuk mencari pekerjaan di sebuah perusahaan pembuat pakaian yang men-supply celana untuk JC Penney.

“Om selalu bilang kalau cari apartement itu jangan yang sewanya mahal karena kalau sewa berarti uang hilang. Kita cari yang paling murah agar ada uang yang bisa ditabung untuk beli rumah,” kata tante mengenang ucapan suaminya.

Dengan prinsip kuat dan kerja keras akhirnya mereka mampu membeli rumah di Texas tahun 1973. Rumah idaman seharga $28.000 (dua puluh delapan ribu dolar) dengan 3 kamar tidur dan 2 kamar mandi menjadi milik mereka. Di rumah itu, James Howard Oey, anak lelaki mereka lahir. Rumah dengan halaman cukup luas itu menjadi tempat nyaman dalam membesarkan dan merawat si buah hati.

“Waktu itu Om sampai harus bekerja di dua tempat loh. Kerja full time di sebuah laboratorium milik seorang dokter dan satu lagi part time di rumah sakit di tempat kakak saya bekerja. Om kerja di laboratorium itu sejak baru berdiri. Dokter pemilik usaha itu mengatakan kepada Om untuk sama-sama membangun. Istilahnya seperti kerja sama begitu,” jelas Tante Swan.

Seperti halnya kerja sama yang dilakukan dalam memulai sebuah usaha (startup business) mereka berjuang bersama sejak awal, dan Hock Chuan dijanjikan profit sharing oleh sang dokter pemilik laboratorium itu, dimana tentunya akan ada pembagian keuntungan yang jelas dan adil ketika usaha itu maju dan berkembang.

Dengan memiliki ilmu dan banyak pengalaman di laboratorium sewaktu di Indonesia bukanlah hal yang mustahil bagi beliau membuat usaha itu jadi maju dan berkembang.

“Waktu di Indonesia Om pernah punya pengalaman membangun rumah sakit di Bandung dengan para dokter, bangun rumah sakit Maranatha,” sambung Tante Swan.

Seiring waktu usaha mereka berjalan sangat baik dan berkembang pesat. Dari berkantor di gedung kecil hingga pindah ke gedung kantor lebih besar. Sampailah saat dimana Hock Chuan harus bicara kepada sang dokter pemilik laboratorium soal pembagian keuntungan yang dijanjikan.

“Mana profit sharing untuk saya,” begitu tanya Om saat itu dan dijawab dengan santai tanpa rasa berdosa oleh sang dokter pemilik laboratorium; “Well, kalau kamu gak happy kerja di sini yah kamu boleh keluar.”

Mendapat jawaban tak terduga penuh dusta itu membuat hati Hock Chuan patah, berkecamuk segudang rasa. Marah, tak percaya dan kecewa dengan jawaban dari sang partner membuat Hock Chuan terpukul. Padahal, demi membangun laboratorium itu hingga berkembang dan maju beliau sampai meninggalkan pekerjaan paruh waktu-nya di rumah sakit. Hock Chuan memusatkan harapan dan impiannya di situ. Segala usaha, tenaga, waktu dan pikiran yang beliau curahkan sepenuhnya saat itu seketika lenyap tak berbekas. Impiannya terhempas.

“Kita sih waktu itu memang benar-benar nggak ngerti soal kerja sama dengan perjanjian profit sharing. Seharusnya pakai pengacara (lawyer) dan ada surat tertulis. Kita terlalu percaya hanya dengan omongan saja,” terang Tante Swan.

Karena kejadian itu Hock Chuan mengambil keputusan bulat untuk keluar dari laboratorium dan bahkan berniat pindah ke lain kota meninggalkan segala pengalaman dan kenangan pahitnya.

Yuk, kita pindah saja. Kamu mau pindah kemana? Dallas? Houston?” ajak Om kepada sang istri.

No, saya nggak mau. Kita kembali ke California saja,” jawab sang istri dengan pasti.

Seperti apa yang telah diyakini oleh Tante Swan dalam kisah perjalanan hidup ini —Jalan Tuhan itu memang luar biasa— Mereka mengerti bahwa keputusan meninggalkan Texas dan memulai kembali ke tempat impian mereka, California bukanlah hal mudah. Rintangan dan tantangan pastinya akan banyak mereka hadapi.

“Waktu itu Om berangkat ke California sendirian dengan naik mobil. Saya menunggu di rumah (Texas) hanya dengan anak saya sampai Om mendapat pekerjaan dan apartment untuk kami tinggal,” kenang Tante Swan.

“Uang yang kita kumpulkan dari Texas tidak banyak, jadi Om harus mendapatkan pekerjaan dulu di tempatnya yang baru untuk menyewa apartment,” sambungnya.

Rencana Tuhan sungguh indah dan luar biasa. Hock Chuan akhirnya mendapat pekerjaan di Encino, Los Angeles. Entah bagaimana di sana beliau mendapat pertolongan dari seseorang yang baru dijumpainya di tempat kerja itu. Seorang bule yang baik hati telah dikirim Tuhan untuk menolong. Si bule itu menawarkan beliau untuk tinggal di rumahnya.

“Mungkin dia kasihan melihat Om waktu itu karena semua barang bawaan disumpel dalam mobil, bahkan sampai ditumpuk di atas mobil. Habis mau ditaruh dimana? kan dia belum dapat apartment,” kenang tante.

Tak sampai satu bulan menumpang, dari gaji yang didapat dari tempat kerja baru itu Hock Chuan akhirnya mampu menyewa sebuah apartment. Dan kemudian segera menyuruh sang istri beserta anaknya untuk menyusul.

“Rumah di Texas kita jual murah sekali. Kita jual rugi. Saya dan anak saya kemudian terbang ke LA menyusul Om,” jelas Tante Swan.

Selesai mengatakan itu, Tante Swan menatap wajah sang suami tercinta sambil tersenyum. Ada kehangatan yang menyeruak dari moment itu. Dari kenyataan masa lalu dan masa kini yang mereka alami, mengingatkan kesadaran dan keyakinan saya tentang sebuah renungan iman; Tuhan punya rencana terhadap hidup setiap manusia. Rencana besar itu akan indah pada akhirnya jika kita mau dengan ikhlas menyerahkan hidup ini ke dalam tanganNya, hanya pada kehendakNya.

***

** Catatan redaksi:

Kisah ini akan berlanjut lebih seru dan menarik di bagian ke dua nanti. Akan ada kisah perjuangan lainnya dimana Tuhan menuntun mereka ke Bay Area dan akhirnya terbentuk WKICU.

Di tunggu yah…!!







Read More
Tahukah Anda?, Tahukah Anda Redaksi E-Bulletin Tahukah Anda?, Tahukah Anda Redaksi E-Bulletin

Tahukah Anda

“seseorang dibenarkan karena perbuatannya dan bukan hanya karena

imannya”

The biblical teaching that ‘a man is justified by his works and not by faith alone” appears in which New Testament epistle ?:

a. 1 Peter

b. Hebrews

c. Jude

d. James

e. 2 Timothy

Answer: d. James
(James 2:24) “See a person is justified by works and not by faith alone …….. (James 2:26) For as the body without a spirit is dead, so also faith without work is dead”

Source / Sumber: Inquizition by Patrick Madrid



So likewise a Levite, when he came to the place and saw him, passed by on the other side. 33 But a Samaritan, as he journeyed, came to where he was, and when he saw him, he had compassion.

Ajaran alkitab yang bunyinya “seseorang dibenarkan karena perbuatannya dan bukan hanya karena

imannya” tertulis dalam surat Perjanjian Baru yang mana ? :

A. Petrus Pertama

B. Ibrani

C. Yudas

D. Yakobus

E. Timotius Kedua

Jawaban: D. Yakobus

(Yakobus 2:24) “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman……(Yakobus 2:26) Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”



Read More
Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin

Why Bad Things Happen to Good People?

Mengapa Hal Buruk Terjadi pada Orang Baik?

Oleh Jennie Xue, MTh
(Seorang penulis dwibahasa dan pengajar yang berbasis di NorCal.
Karya-karyanya dapat ditemukan di jenniexue.com
)

Seberapa sering kita mendengar pertanyaan ini, "Mengapa dia menderita? Dia adalah orang yang baik." Pernyataan berikutnya yang mungkin menyusul adalah, "Yah, dia pasti punya banyak dosa, dan itu adalah karmanya untuk menderita."

Sahabat, jangan terlalu cepat menilai dan mengambil kesimpulan. Memang, keingintahuan kita sebagai orang Kristen untuk bertanya mengapa hal buruk terjadi pada orang baik dan apakah itu akibat langsung dari tindakan kita.

Pertanyaan seperti itu begitu populer sehingga para teolog dan filsuf telah mempelajarinya selama berabad-abad dalam suatu disiplin yang disebut teodisi. Istilah ini berasal dari kata Yunani "theos", yang berarti Tuhan, dan "tanggul", yang berarti keadilan.

Teodisi adalah pembelaan atas kebaikan dan kemahakuasaan Tuhan dalam menghadapi kejahatan.
Ini adalah studi yang mencoba mendamaikan keberadaan Tuhan yang penuh kasih dan mahakuasa dengan realitas kejahatan dan penderitaan di dunia.

Tuhan menciptakan kita untuk dilengkapi dengan kehendak bebas, yaitu kemampuan untuk memutuskan dan memilih tindakan kita secara mandiri. Ini adalah pengalaman manusia yang mendasar, menggarisbawahi tanggung jawab moral kita. Terkadang, kehendak bebas menimbulkan masalah, tetapi apakah itu membuat kita menderita karena dihukum oleh Tuhan?

Dengan kata lain, apakah pilihan dan tindakan yang buruk selalu mengakibatkan penderitaan yang luar biasa? Berbicara secara manusiawi, tindakan apa pun, terlepas dari moralitasnya, kemungkinan besar akan menghasilkan sesuatu.

Namun, bukan berarti mereka yang menderita penyakit mematikan, seperti kanker, adalah individu jahat yang pantas mendapatkan rasa sakit tersebut. Dengan "logika karma", semakin kejam orang tersebut, semakin banyak penderitaan yang akan dialaminya.

Bagaimana dengan orang suci yang menderita penyakit seumur hidup yang parah? Atau mereka yang mengalami langsung betapa sakitnya stigmata?

Orang suci dipilih individu dengan pesan suci untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Mereka tidak jahat, pasti. Oleh karena itu, ini adalah contoh kuat yang membuktikan bahwa "logika karma" tidak berlaku dalam kekristenan.

"Karma" adalah konsep yang banyak ditemukan dalam agama-agama Timur seperti Hindu dan Budha. Itu berputar di sekitar prinsip sebab dan akibat, menunjukkan bahwa tindakan masa lalu kita memengaruhi keadaan kita saat ini dan bahwa tindakan kita saat ini akan menentukan nasib masa depan kita.

Misalnya, kitab Ayub dalam Alkitab menantang gagasan retributif tentang keadilan ini. Ayub adalah orang saleh yang menghadapi penderitaan yang mendalam—bukan sebagai akibat dari tindakannya, tetapi sebagai bagian dari rencana ilahi di luar pemahamannya (Ayub 1:1).

Keyakinan inti Kristen adalah kebajikan anugerah, yang menekankan perkenan Tuhan bagi kita yang tidak pantas. Anugerah berarti bahwa, terlepas dari dosa manusia, Allah menawarkan kasih dan keselamatan. Dengan kata lain, bahkan jika Anda telah melakukan dosa berat dan memohon pengampunan, Tuhan akan mengampuni Anda dengan Rahmat-Nya.

Konsep ini sangat berbeda dari karma, di mana setiap hasil haruslah diraih dan diperoleh. Anugerah diungkapkan dengan indahnya dalam Efesus 2:8-9: “Sebab oleh kasih karunia kamu diselamatkan, oleh iman—dan ini bukan hasil usahamu, itu pemberian Allah—bukan karena perbuatan, sehingga tidak ada orang yang memegahkan diri. ."

Ingat, kita selalu dikasihi dan diselamatkan oleh Tuhan kita, terlepas dari beban dosa kita. Namun, adalah hak istimewa dan tanggung jawab kita sebagai orang Kristen untuk menjunjung nilai kasih dan pengampunan.

Selalu bersikap baik dan tidak menyakiti orang lain meskipun kapasitas kita tidak baik dan berbahaya. Bukan hanya karena Tuhan meminta kita untuk menjadi baik, tetapi juga karena kita diciptakan menurut gambar-Nya & srupa denganNya. Kita pada dasarnya adalah makhluk yang baik.

Nama lain Yesus Kristus adalah Emmanuel, atau "Tuhan beserta Kita". Dia datang ke dunia ini, jadi kita tidak pernah sendirian dengan rasa sakit kita. Dia selalu ada di sini untuk membawanya bersama kita dan untuk kita. Akhirnya, Dia mengangkat kita di atas dengan sukacita dan harapan yang besar.

Oleh karena itu, saat kita sedang menderita, berusahalah untuk tetap tenang dan jalani dengan sukacita, harapan, dan doa. Kami tidak sedang "dihukum"; sebaliknya, kita sedang mengalami jaminan Tuhan akan penebusan terakhir-Nya dengan dibimbing dan dilindungi dengan penuh kasih dalam pencobaan kita.

Fokusnya bukan pada sistem sebab dan akibat yang mekanis, tetapi pada kekuatan transformatif anugerah Allah di tengah pencobaan hidup. Semoga kita semua menjadi orang Kristen yang lebih baik dengan memperdalam iman kita dan memahami arti dari penderitaan kita.

____________________________________________________________

Why Bad Things Happen to Good People?

By Jennie Xue, MTh
(She is a bilingual author and educator based in NorCal.
Her works can be found at
jenniexue.com )

How often do we hear this question, "Why is he or she suffering? He/she is a good person." The next statement that might follow is, "Well, he/she must have a lot of sins, and it's his/her karma to suffer."

Friends, don't be too quick to judge and make a conclusion. Indeed, it's our curiosity as Christians to ask why bad things happen to good people and whether it's a direct consequence of our actions.

Such a question is so popular that theologians and philosophers have studied it for centuries in a discipline called theodicy. The term originates from the Greek words "theos," meaning God, and "dike," which signifies justice.

Theodicy is a defense of God's goodness and omnipotence in the face of evil. It's the study that attempts to reconcile the existence of a loving, omnipotent God with the reality of evil and suffering in the world.

God created us to be equipped with free will, which is the ability to decide and choose our actions independently. It's a fundamental human experience, underscoring our moral responsibility. Sometimes, free will cause troubles, but does it make us suffer by being punished by God?

In other words, do bad choices and actions always result in extreme suffering? Humanly speaking, any action, regardless of its morality, is likely to result in something.

However, it doesn't mean those suffering from terminal illnesses, like cancer are evil individuals deserving of such pain. With "karma logic," the more vicious the person, the more suffering he or she will experience.

How about saints who suffered from severe lifelong illnesses? Or those who experienced first-hand how painful a stigmata was?

Saints were chosen individuals with holy messages to deliver to all humankind. They were not evil, for sure. Therefore, it's a strong example that proves "karma logic" isn't valid in Christianity.

"Karma" is a concept predominantly found in Eastern religions like Hinduism and Buddhism. It revolves around the principle of cause and effect, suggesting that our past actions influence our present circumstances and that our current actions will determine our future fate.

For instance, the book of Job in the Bible challenges this retributive notion of justice. Job was a righteous man who faced profound suffering—not as a consequence of his actions, but as part of a divine plan beyond his comprehension (Job 1:1).

A core Christian belief is the virtue of grace, which emphasizes God's unmerited favor. Grace means that, despite human sinfulness, God offers love and salvation. In other words, even if you've committed a mortal sin and asked for absolution, God will forgive you with His Grace.

This concept is profoundly different from karma, where every outcome is earned. Grace is captured beautifully in Ephesians 2:8-9: "For it is by grace you have been saved, through faith—and this is not from yourselves, it is the gift of God—not by works, so that no one can boast."

Remember, we're always loved and saved by Our Lord, despite the weight of our sins. However, it's our privilege and responsibility as Christians to uphold the virtues of love and forgiveness.

Always be kind and do not harm others despite our capacity to be unkind and harmful. Not only because God asks us to be good, but also because we're made in His image and likeness. We're inherently good creatures.

Jesus Christ's other name is Emmanuel, or "God with Us." He comes to this world, so we're never alone with our pain. He is always here to carry it with us and for us. Eventually, He is to raise us above with great joy and hope.

Therefore, when we're suffering, do your best to keep calm and carry on with joy, hope, and prayers. We're not being "punished"; instead, we're experiencing God's reassurance of His ultimate redemption by being lovingly guided and protected in our trials.

The focus is not on a mechanical system of cause and effect but on the transformative power of God's grace amidst life's trials. May we all become better Christians by deepening our faith and understanding the meaning of our sufferings.

Read More
Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin

Tithing and Financial Management for Catholics

Apakah kita wajib memberi perpuluhan? Jika ya, berapa banyak? Juga, selain perpuluhan, apa tanggung jawab keuangan kita yang lain sebagai orang katolik?

By Jennie Xue (Master of Theology Candidate)
A multidisciplinary, bilingual author and columnist based in NorCal

One of our non-Catholic Christian brothers and sisters’ religious practices is tithing, which refers to giving 10 per cent of one’s income to the Church. It’s an honorable thing to do, but how about Catholics? Are we obliged to tithe? If yes, how much? Also, other than tithing, what are our other financial responsibilities as Catholics?

First things first, let’s clarify. Catholics aren’t obliged to give away 10 per cent of our income. It was practiced in ancient Israel under the Law of Moses. It can be found in the Old Testament Malachi 3:1 “Bring the whole tithe into the storehouse, that there may be food in my house. Test me in this” says the Lord Almighty, “and see if I will not throw open the floodgates of heaven and pour out so much blessing that there will not be room enough to store it”.

Today, under the Catechism of the Catholic Church (CCC2043), the fifth precept, “You shall help to provide for the needs of the Church” practicing Catholics are obliged to assist with the needs of the Church based on their ability.

The Biblical sources of the above precept are 1 Corinthians 16:2 and 2 Corinthians 9: 6-8.
1 Corinthians 16:2: “On the first day of the week [Sunday], each of you should set aside whatever he can afford.”
2 Corinthians 9:6-8: “Whoever sows sparingly will also reap sparingly, and whoever sows generously will also reap generously. 7 Each of you should give what you have decided in your heart to give, not reluctantly or under compulsion, for God loves a cheerful giver. 8 And God is able to bless you abundantly, so that in all things at all times, having all that you need, you will abound in every good work.”

Now, what are the other financial responsibilities God urges us to do? Let’s review these OT and NT verses and grasp what He asks us to do.

Old Testament sources:
Proverbs 3:9-10
“Honor the Lord with your wealth, with the fruits of all your crops; then your barns will be filled to overflowing, and your vats will brim over with new wine.”
Applied interpretation: Always honor God; He will not forsake you financially.

Proverbs 22:7
“The rich rule over the poor, and the borrower is slave to the lender.”
Applied interpretation: Always strive to be debt free, so you aren’t being enslaved by the lender.

Ecclesiastes 5:10
“Whoever loves money never has enough; whoever loves wealth is never satisfied with their income. This, too is meaningless.”
Applied interpretation: Be grateful for what you have at hand and don’t work simply to earn more and more money. There are many things more important than money.


New Testament sources:
Matthew 6:24
“No one can serve two masters. Either you will hate the one and love the other, or you will be devoted to the one and despise the other. You cannot serve both God and money.”
Applied interpretation: Money is neutral and shouldn’t be regarded as the “ultimate source” of everything in your life. Choose between devoting yourself to God or money. We hope you’d choose the former.

2 Corinthians 9:6-7
“Remember this: Whoever sows sparingly will also reap sparingly, and whoever sows generously will also reap generously. Each of you should give what you have decided in your heart to give, not reluctantly or under compulsion, for God loves a cheerful giver.”
Applied interpretation: What you give away joyfully would return to you in multiply. This also applies to charitable donations.

1 Timothy 6:10
“For the love of money is a root of all kinds of evil. Some people, eager for money, have wandered from the faith and pierced themselves with many griefs.”
Applied interpretation: Money isn’t evil. It’s the love of money that’s evil and the root of all kinds of evil that appear later on.

To sum up, Catholics aren’t obliged to give away 10 per cent of their money to the Church but are advised to give joyfully. You can also donate other things other than money, such as time, energy, skills, information, and other resources.
And remember, money itself is neutral; it is the greed (love of money) that’s evil. So if one your goals is being financially independent, go for it. No need to be ashamed, as long as you continue giving in any of the aforementioned forms, the Lord will continue to bless you.

Have a fruitful life, everyone. Thank you for reading.

Perpuluhan dan Pengelolaan Keuangan bagi Umat Katolik

Oleh Jennie Xue (Calon Magister Teologi)
Seorang penulis dan kolumnis multidisiplin, dwibahasa yang tinggal di NorCal

Salah satu praktek keagamaan yang dijalankan oleh umat Kristen non-katolik adalah perpuluhan, yang mengacu pada memberi 10 persen dari pendapatan seseorang untuk Gereja. Itu adalah hal yang mulia untuk dilakukan, tapi bagaimana dengan umat Katolik? Apakah kita wajib memberi perpuluhan? Jika ya, berapa banyak? Juga, selain perpuluhan, apa tanggung jawab keuangan kita yang lain sebagai orang katolik?

Mulai dari yang pertama, mari kita perjelas. Umat Katolik tidak diwajibkan untuk memberikan 10 persen dari penghasilan. Praktek itu dijalankan di Israel kuno di bawah Hukum Musa, seperti tertulis dalam Perjanjian Lama Maleakhi 3:10, “Bawalah seluruh persepuluhan ke dalam gudang, supaya ada makanan di rumahku. Cobailah aku dalam hal ini” kata Tuhan Yang Mahakuasa, “dan lihat apakah Aku tidak akan membuka pintu air surga dan mencurahkan begitu banyak berkat sehingga tidak akan cukup ruang untuk menyimpannya.”

Di masa sekarang, mengacu kepada Katekismus Gereja Katolik (KGK 2043), ayat ke lima, “Kamu akan membantu untuk memenuhi kebutuhan Gereja,” Umat Katolik yang taat wajib membantu kebutuhan Gereja berdasarkan kemampuannya.

Sumber Alkitab dari ajaran di atas adalah 1 Korintus 16:2 dan 2 Korintus 9:6-8.
1 Korintus 16:2: “Pada hari pertama minggu itu [Minggu], hendaklah kamu masing-masing menyisihkan dia mampu.”
2 Korintus 9:6-8: “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur dengan murah hati juga akan menuai dengan murah hati. 7 Anda masing-masing harus memberikan apa yang telah Anda putuskan dalam diri Anda hati untuk memberi, tidak dengan enggan atau karena paksaan, karena Tuhan mengasihi pemberi yang ceria. 8 Dan Tuhan sanggup untuk memberkati Anda dengan berlimpah, sehingga dalam segala hal setiap saat, memiliki semua yang Anda butuhkan, Anda akan berkelimpahan dalam setiap perbuatan baik.”

Sekarang, apakah tanggung jawab keuangan lainnya yang Tuhan minta untuk kita lakukan? Mari tinjau ayat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ini dan pahami apa yang Tuhan minta kita lakukan.

Sumber Perjanjian Lama:
Amsal 3:9-10
“Hormatilah Tuhan dengan kekayaanmu, dengan hasil dari semua tanamanmu; maka lumbungmu akan terisi penuh meluap, dan tong Anda akan penuh dengan anggur baru.”
Interpretasi terapan: Selalu hormati Tuhan; Dia tidak akan meninggalkan Anda secara finansial.

Amsal 22:7
”Orang kaya menguasai orang miskin, dan peminjam menjadi budak pemberi pinjaman.”
Interpretasi terapan: Selalu berusaha untuk bebas hutang, sehingga Anda tidak diperbudak oleh pemberi pinjaman.

Pengkhotbah 5:10
”Siapa pun yang mencintai uang tidak akan pernah merasa cukup; siapa pun yang mencintai kekayaan tidak pernah puas dengan mereka penghasilan. Ini juga tidak ada artinya.”
Interpretasi terapan: Bersyukurlah atas apa yang Anda miliki dan jangan bekerja hanya untuk mendapatkan lebih banyak dan lebih banyak uang. Ada banyak hal yang lebih penting daripada uang.

Sumber Perjanjian Baru:
Matius 6:24
“Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Entah Anda akan membenci yang satu dan mencintai yang lain, atau Anda akan begitu setia pada yang satu dan membenci yang lain. Anda tidak dapat melayani Tuhan dan uang sekaligus.”
Interpretasi terapan: Uang itu netral dan tidak boleh dianggap sebagai “sumber utama” dari segala sesuatu dalam hidup Anda. Pilih antara mengabdikan diri kepada Tuhan atau uang. Semoga anda akan memilih yang pertama.

2 Korintus 9:6-7
”Ingatlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak juga akan menuai dengan murah hati. Anda masing-masing harus memberikan apa yang telah Anda putuskan dalam hati untuk diberikan, bukan dengan enggan atau terpaksa, karena Tuhan mencintai pemberi yang ceria.”
Interpretasi terapan: Apa yang Anda berikan dengan senang hati akan kembali kepada Anda berlipat ganda. Ini juga berlaku untuk sumbangan amal.

1 Timotius 6:10
”Karena cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan. Beberapa orang, karena haus akan uang, telah mengembara dari iman dan menyiksa dirinya dengan banyak kesedihan.”
Interpretasi terapan: Uang tidak jahat. Cinta akan uang itulah yang jahat dan akar dari segala macam kejahatan yang muncul di kemudian hari. Singkatnya, umat Katolik tidak diwajibkan untuk memberikan 10 persen dari uang mereka kepada Gereja tetapi disarankan untuk memberi dengan sukacita. Anda juga dapat menyumbangkan hal-hal lain selain uang, seperti waktu, tenaga, keterampilan, informasi, dan sumber daya lainnya. Dan ingat, uang itu sendiri netral; keserakahan (cinta uang) itulah yang jahat. Jadi jika salah satu milikmu tujuan menjadi mandiri secara finansial, lakukanlah. Tidak perlu malu, selama Anda melanjutkan memberi dalam salah satu bentuk yang disebutkan di atas, Tuhan akan terus memberkati Anda.

Memiliki kehidupan yang berbuah, semua orang. Terima kasih telah membaca.

Read More
Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin

Five Reasons That Jesus Speaking Literally About His Real Flesh And Blood

Hosti Kudus adalah sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Kristus. Kata Yesus: "Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman”.

Five reasons that Jesus speaking literally about his real flesh and blood:

1. The discourse takes place just after the famous miracle of the multiplications of the loaves. Jesus turned five loaves and a couple of fish into a seemingly inexhaustible food supply: enough to feed thousands of people and still 12 baskets of leftovers. This miracle prefigures the inexhaustible gift of Christ’s own flesh and blood.

2. Jesus claims the superiority of his bread over the manna given to the Israelites. “I am the bread of life. Your fathers ate the manna in the wilderness, and they died. This is the bread which comes down from Heaven that a man eats of it and does not die (John 6: 48 - 50).

3. Everyone who heard Jesus understood him to be speaking literally of his body and blood.      ”How can this man give us his flesh to eat?”. “This is a hard saying; who can listen to it?”.

Many of Jesus' disciples -  who were with him for many years - quit following Jesus, never even asking Jesus to explain himself. They understood perfectly that Jesus meant precisely what he said.

4. Jesus repeats six times in six verses (verses 53 - 58) ”Truly, truly, I say to you, unless you eat the flesh of the son of man and drink his blood, you have no life in you”.
“For my flesh is food indeed and my blood is drink indeed”.

5. Many of Jesus’ own disciples can’t accept the literalness of his teaching and leave him. Notice that Jesus did not call them back and explain that he is only speaking figuratively.
Jesus didn't call the unbelieving disciples back and offered to explain for an obvious reason: they understood exactly what he meant. They just couldn’t accept it. Even the twelve apostles were shaken. But Jesus doesn’t compromise a bit. Instead, he challenges His own hand picked Apostles: “will you also go away?.  In faith Peter answers: “Lord, to whom shall we go ?. You have the words of eternal life”.

Lima Dasar Bahwa Yesus Berbicara Secara Harafiah Tentang Tubuh Dan DarahNya:

1. Khotbah terjadi tepat setelah keajaiban penggandaan roti. Yesus mengubah lima roti dan beberapa ikan menjadi persediaan makanan yang tampaknya tidak pernah habis: cukup untuk memberi makan ribuan orang dan masih tersisa 12 keranjang makanan. Mukjizat ini menggambarkan pemberian darah dan daging Kristus sendiri yang tidak ada habisnya.

2. Yesus mengklaim keunggulan/keutamaan rotiNya atas manna yang diberikan kepada orang Israel. “Aku adalah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Akulah roti hidup yang turun dari Surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya (Yohanes 6: 48 - 50).

3. Setiap orang yang mendengar Yesus mengerti bahwa Yesus berbicara secara harafiah tentang tubuh dan darahNya. "Bagaimana orang ini bisa memberi kita dagingnya untuk dimakan?". “Ini adalah perkataan yang sulit; siapa yang bisa mendengarkannya?”.
Banyak murid Yesus - yang telah bersamanya selama bertahun-tahun - kemudian berhenti mengikuti Yesus, bahkan tidak pernah meminta Yesus untuk menjelaskan Dirinya sendiri. Mereka memahami sepenuhnya bahwa bahwa Yesus benar-benar bersungguh-sungguh dengan apa yang Dia katakan.

4. Yesus mengulangi enam kali dalam enam ayat (Yoh 6: 53 - 58) "Sungguh, sungguh, Aku berkata kepadamu, kecuali kamu makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak memiliki kehidupan di dalam kamu". "Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman”.

5. Banyak dari murid Yesus sendiri tidak dapat menerima ajaranNya secara literal dan meninggalkanNya.
Perhatikan bahwa Yesus tidak memanggil mereka kembali dan menjelaskan bahwa Dia hanya berbicara kiasan. Yesus tidak memanggil kembali murid-murid yang tidak percaya dan menawarkan untuk menjelaskan, karena alasan yang sudah jelas: mereka mengerti persis apa yang Dia maksud. Mereka tidak bisa menerimanya.
Bahkan kedua belas rasul terguncang. Tetapi Yesus tidak berkompromi sedikit pun. Sebaliknya, Dia menantang para Rasul yang dipilihNya sendiri dari awal mula: “Apakah kamu akan pergi juga ?.” Dengan beriman Petrus menjawab: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi?. Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal”.

Read More
Tahukah Anda Redaksi E-Bulletin Tahukah Anda Redaksi E-Bulletin

Tahukah Anda?

Apakah Misa Merah / Red Mass itu ?

A “Red Mass” is a special Mass celebrated for:

a. Courts, judges, and lawyers
b. Doctors
c. Patients
d. Prisoners
e. Monks

Answer: a. Courts, judges, and lawyers

Catholic Lawyer Guilds throughout the world, in conjunction with their bishops, sponsor a Red Mass annually in order to invoke divine guidance and strength during the coming term of the Court. It is celebrated in honor of the Holy Spirit as the source of wisdom, understanding, counsel, and fortitude, gifts that shine forth preeminently in the dispensing of justice in the courtroom as well as in the individual lawyer’s office. It also offers prayers for all men and women in the legal profession, judiciary, and public life, asking that they be blessed with wisdom and understanding. These special Masses began in Paris, 1245, and the first on States-side was in New York City on October 6, 1928. The Basilica of the national Shrine of the Immaculate Conception in D.C. has attendees at their Red Masses from Congress, the Supreme Court, and even presidents.

Source / Sumber: Inquizition by Patrick Madrid

“Misa Merah” adalah Misa khusus yang dirayakan untuk:
A. Pengadilan, hakim, dan pengacara
B. Dokter
C. Pasien
D. Tahanan
E. Biksu

Jawaban: A. Pengadilan, hakim, dan pengacara

Persekutuan Pengacara Katolik di seluruh dunia, bekerja sama dengan keuskupannya, mengadakan ‘Misa Merah’ setiap tahun untuk mendapatkan bimbingan dan kekuatan Allah saat memulai periode baru penugasan di Mahkamah Agung. Misa dirayakan untuk menghormati Roh Kudus sebagai sumber kebijaksanaan, pengertian, nasihat, dan keteguhan, sebagai karunia utama untuk membuahkan keadilan di ruang sidang dan di kantor para pengacara. Misa ini mendoakan para pekerja di bidang hukum, pengadilan, dan umat pada umumnya, agar mereka diberkati dengan karunia kebijaksanaan dan pengertian. Dalam sejarah, misa ini pertama kali di adakan di Paris, tahun 1245. Sedangkan di Amerika Serikat, pertama kali di persembahkan di New York City pada tanggal 6 Oktober 1928. Misa Merah di Basilika Nasional Maria Dikandung Tanpa Noda di D.C. Amerika Serikat, biasa dihadiri oleh para anggota Kongres, Mahkamah Agung, dan bahkan oleh beberapa presiden.

Read More
Tahukah Anda WKICU Admin Tahukah Anda WKICU Admin

Tahukah Anda?

Itu menandakan bagaimana Kristus, khususnya dalam Ekaristi Kudus, adalah perwujudan “roti” dari surga

In Hebrew, the word ‘Betlehem’ means:

a. City of David

b. Home of Shepherds

c. Star of Wonder

d. House of Bread

e. Prince of Peace

Dalam bahasa Ibrani, kata Betlehem berarti:

A. Kota Daud

B. Rumah para Gembala

C. Bintang Keajaiban

D. Rumah Roti

E. Raja Damai

Answer:

D. The significance of the name of the little town where Jesus was born cannot be underestimated. The house of bread’ motif is one of the fulfilments of prophecy concerning the coming Mesiah: “But you, O Betlehem Ephrathah, who are little to be among the clans of Judah, from you shall come forth for me one who is to be ruler in Israel, whose origin is form of old, from ancient days” (Micah 5:1). It also signifies how Christ, particularly in the Holy Eucharist, is the fulfillment of the miraculous bread from heaven, the manna in the desert (Exodus 16) with which God fed the Israelites for a time as the wandered. Jesus said, “For the bread of God is that which comes down from heaven and gives life to the world” and “I am the bread of life; he who comes to me shall not hunger, and he who believes in meshall never thirst” (John 6:33, 35).

Jawaban:

D. Nama kota kecil tempat Yesus dilahirkan, sama sekali bukanlah hal yang ‘kecil’. Konsep rumah roti & adalah salah satu penggenapan nubuat tentang Mesias yang akan datang: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak dahulu kala” (Mikha 5:1). Itu menandakan bagaimana Kristus, khususnya dalam Ekaristi Kudus, adalah perwujudan “roti” dari surga, juga dengan manna di padang pasir (Keluaran 16) dimana Tuhan memberi makan orang Israel saat mereka mengembara. Yesus berkata, “Karena roti yang dari Allah adalah roti yang turun dari surga dan memberi hidup kepada dunia” dan “Akulah roti hidup; barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi,dan barang siapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yohanes 6:33, 35).

Source / Sumber: Inquizition by Patrick Madrid.

Read More
Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin Artikel & Renungan Redaksi E-Bulletin

Time Management for Catholics

“Our decisions must begin by acknowledging that our lives belong to God. ……..……..
We must maintain a clear sense of our mission on earth: to love God and to love our neighbor. Everything flows from this.”

by Jennie M. Xue

Time is precious and considered a “commodity”. Whether at work or home, obligations and distractions can make us feel overwhelmed and, frequently, distance us from what matters. Claiming ourselves “busy” is, in fact, a popular excuse.

The concept of “time” itself is much more than that. Time isn’t merely “ours”; it’s God’s.

Using this paradigm, in Catholicism, the essence of time revolves around the idea of “the right time”, or kairos in Greek. In the New Testament, the ultimate kairos is Salvation. On the contrary, the chronological time (human time) we’re accustomed to is called chronos.

About kairos, Ecclesian 3:1-8 wrote it well: For everything, there is a season, and a time for every matter under heaven:

A time to be born, and a time to die;
A time to plant, and a time to pluck up what is planted;
A time to kill, and a time to heal;
A time to break down, and a time to build up;
A time to weep, and a time to laugh;
A time to mourn, and a time to dance;
A time to throw away stones, and a time to gather stones together;
A time to embrace, and a time to refrain from embracing;
A time to seek, and a time to lose;
A time to keep, and a time to throw away;
A time to tear, and a time to sew;
A time to keep silence, and a time to speak;
A time to love, and a time to hate;
A time for war, and a time for peace.

God’s time is never linear and is more about values than anything else. Thus, we must discern and weigh the value of each moment, which is reflected in each decision that results in thoughts, words, and deeds.

Cited from Marshall J. Cook in Time Management: A Catholic Approach, “Our decisions must begin by acknowledging that our lives belong to God. Prayer must guide them. And they must be rooted in an honest appraisal of our lives and a sincere desire to love and serve God. We must maintain a clear sense of our mission on earth: to love God and to love our neighbor. Everything flows from this.”

We can use these four tools for managing time as Catholics: self-awareness, organization, prayerful reflection, and purposeful action.
Self-awareness is essential because it takes us a step back to assess how we manage our time. For this, we need to distinguish what is necessary and what isn’t.

Stephen Covey once stressed the importance of value-based time management, which can be categorized into essential and urgent. In the Old Testament, prophet Micah states that an activity is deemed important; when we actively contribute to our mission to do justice, love kindness, and walk humbly with God.

Next, the organization is crucial because it helps us keep track of what needs to be done when it needs to be done, and how long it will take. By having a plan, we can prioritize tasks based on their importance and time sensitivity. Remember, what’s “important”, according to lay experts like Covey, is different from God’s definition.

Prayerful reflection gives us time to slow down and reflect on our faith and values. This helps us reflect on whether an act or a decision is valuable for ourselves, fellow humans, and, most importantly, God. And whether it deepens our faith.

Finally, Catholics should be aware of purposeful action. It simply means taking proactive steps towards achieving our goals instead of merely responding to tasks as they come up or waiting for something to happen.

May our time management as Catholics grow each day. Amen.

———————————————

Manajemen Waktu bagi Umat Katolik

Waktu sangat berharga dan dianggap sebagai "komoditas". Baik di tempat kerja atau di rumah, kewajiban dan gangguan dapat membuat kita merasa kewalahan dan, seringkali, menjauhkan kita dari hal-hal yang penting. Mengklaim diri kita "sibuk", sudah menjadi alasan yang populer.

Konsep “waktu” itu sendiri sesungguhnya lebih dari itu. Waktu bukan hanya “milik kita”; itu milik Tuhan.

Dengan menggunakan paradigma ini, dalam agama Katolik, esensi waktu berkisar pada gagasan “waktu yang tepat”, atau kairos dalam bahasa Yunani. Dalam Perjanjian Baru, kairos tertinggi adalah Keselamatan. Sebaliknya, waktu kronologis (waktu manusia) yang biasa kita kenal disebut kronos.

Tentang kairos, Pengkhotbah 3:1-8 menuliskannya dengan baik: Untuk segala sesuatu, ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya:

Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal;
Ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
Ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan;
Ada waktu untuk meruntuhkan, ada waktu untuk membangun;
Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa;
Ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari;
Ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu;
Ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
Ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk kehilangan;
Ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
Ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit;
Ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
Ada waktu untuk mencintai, ada waktu untuk membenci;
Ada waktu untuk perang, dan ada waktu untuk damai.

Waktu Tuhan tidak pernah linier dan lebih tentang nilai daripada apa pun. Oleh karena itu, kita harus mencermati dan menimbang nilai setiap momen, yang tercermin dalam setiap keputusan yang menghasilkan pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Dikutip dari Marshall J. Cook dalam Time Management: A Catholic Approach, “Keputusan kita harus dimulai dengan mengakui bahwa hidup kita adalah milik Tuhan. Doa harus membimbing mereka. Dan itu harus berakar pada penilaian yang jujur atas hidup kita dan keinginan yang tulus untuk mengasihi dan melayani Tuhan. Kita harus mempertahankan pengertian yang jelas tentang misi kita di bumi: untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita. Semuanya mengalir dari ini.”

Kita dapat menggunakan empat alat ini untuk mengatur waktu sebagai umat Katolik: kesadaran diri, organisasi, refleksi doa, dan tindakan yang bertujuan.

Kesadaran diri sangat penting karena kita perlu mundur selangkah untuk menilai bagaimana kita mengatur waktu kita. Untuk itu, kita perlu membedakan mana yang perlu dan mana yang tidak.

Stephen Covey pernah menekankan pentingnya manajemen waktu berbasis nilai, yang dapat dikategorikan menjadi esensial dan mendesak. Dalam Perjanjian Lama, nabi Mikha menyatakan bahwa suatu kegiatan dianggap penting; ketika kita secara aktif berkontribusi pada misi kita untuk melakukan keadilan, mencintai kebaikan, dan berjalan dengan rendah hati bersama Tuhan.

Selanjutnya, pengorganisasian sangat penting karena membantu kita melacak apa yang perlu dilakukan, kapan perlu dilakukan, dan berapa lama waktu yang diperlukan. Dengan memiliki rencana, kita dapat memprioritaskan tugas berdasarkan kepentingan dan sensitivitas waktu. Ingat, apa yang “penting”, menurut pakar awam seperti Covey, berbeda dengan definisi Tuhan.

Refleksi penuh doa memberi kita waktu untuk memperlambat dan merenungkan iman dan nilai-nilai kita. Ini membantu kita merenungkan apakah suatu tindakan atau keputusan berharga bagi diri kita sendiri, sesama manusia, dan yang terpenting, Tuhan. Dan apakah itu memperdalam iman kita.

Akhirnya, umat Katolik harus menyadari tindakan yang bertujuan. Ini berarti mengambil langkah proaktif untuk mencapai tujuan kita alih-alih hanya menanggapi tugas yang muncul atau menunggu sesuatu terjadi.

Semoga manajemen waktu kita sebagai orang Katolik berkembang setiap hari. Amin.

Read More